Riset BRIN: Jejak Magmatisme Pacitan Jadi Petunjuk Potensi Sumber Daya Mineral

  • 14 Agt 2026 00:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BRIN mengidentifikasi tiga kelompok umur batuan vulkanik tua (Old Andesite) di Pacitan, Jawa Timur yang menunjukkan evolusi aktivitas magmatik.
  • Temuan ini merekam tahapan evolusi magmatik sejak Oligosen Akhir hingga Miosen Tengah di selatan Pulau Jawa.
  • Penelitian memberikan informasi penting untuk memahami sistem mineral Indonesia dan mengidentifikasi wilayah berpotensi endapan mineral logam bernilai ekonomi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi tiga kelompok umur batuan vulkanik tua (Old Andesite) di Pacitan, Jawa Timur. Temuan ini merekam tahapan evolusi aktivitas magmatik di selatan Pulau Jawa sejak Oligosen Akhir hingga Miosen Tengah.

penelitian tersebut memberikan informasi penting untuk memahami sistem mineral Indonesia. Informasi ini sekaligus dapat mendukung identifikasi wilayah yang berpotensi memiliki endapan mineral logam bernilai ekonomi.

Peneliti Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN, Lediyantje Lintjewas, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan di kawasan Pegunungan Selatan Jawa dengan menggunakan metode penanggalan zirkon (U-Pb zircon dating) untuk menentukan umur batuan secara akurat. Hasil analisis menunjukkan bahwa batuan vulkanik di Pacitan tidak terbentuk dalam satu periode yang sama, melainkan terbagi dalam tiga kelompok umur.

Perbedaan tersebut menunjukkan adanya beberapa tahapan perkembangan aktivitas magmatik di wilayah tersebut. “Kami menggunakan metode U-Pb zirkon karena dinilai lebih stabil untuk menentukan umur batuan,” ujar Lediyantje dalam Diskusi Geologi Sumber Daya (DiGDaya) #24, Selasa 5 Agustus 2026.

"Dari penelitian ini, kami memperoleh tiga kelompok umur. Data tersebut menunjukkan tahapan perkembangan aktivitas magmatik di wilayah Pacitan," ucapnya menambahkan.

Lediyantje menyebutkan, penelitian ini bertujuan memahami proses pembentukan batuan yang berlangsung selama jutaan tahun serta kaitannya dengan evolusi geologi Pulau Jawa. Perbedaan karakteristik kimia batuan menunjukkan bahwa proses pembentukan magma tidak berlangsung dalam satu tahap, melainkan melalui beberapa fase perkembangan yang dipengaruhi oleh dinamika tektonik dan aktivitas magmatisme di kawasan selatan Pulau Jawa.

Menurutnya, pemahaman terhadap proses tersebut penting untuk merekonstruksi sejarah geologi Indonesia. Informasi ini juga dapat digunakan untuk menelusuri hubungan antara proses pembentukan batuan dan potensi mineral yang terkandung di dalamnya.

Pemahaman mengenai evolusi batuan vulkanik tidak hanya bermanfaat bagi pengembangan ilmu kebumian, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam mendukung eksplorasi sumber daya mineral. Karakteristik magma tertentu dapat menjadi salah satu petunjuk awal dalam mengidentifikasi wilayah yang berpotensi mengandung mineral logam bernilai ekonomi, seperti endapan porfiri.

“Penelitian selanjutnya akan difokuskan untuk mengkaji magma adakit dan hubungannya dengan pembentukan endapan porfiri di Indonesia. Kajian ini diharapkan dapat mendukung upaya pencarian sumber daya mineral yang lebih efektif pada masa mendatang,” katanya mengungkapkan.

Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Iwan Setiawan, berharap hasil penelitian mengenai sistem mineral Indonesia dapat dipahami secara lebih luas, tidak hanya oleh kalangan akademisi, tetapi juga oleh masyarakat dan para pemangku kepentingan. Menurutnya, DiGDaya menjadi ruang ilmiah untuk mempertemukan berbagai hasil penelitian sekaligus memperkaya pemahaman mengenai potensi sumber daya geologi Indonesia.

Forum ini juga diharapkan dapat memperkuat kolaborasi riset dalam mendukung pemanfaatan sumber daya geologi secara berkelanjutan. “Hasil riset tersebut diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah bagi pengelolaan sumber daya mineral,” ujar Iwan.

Hal ini mencakup pengembangan mineral kritis yang dibutuhkan untuk mendukung pembangunan nasional. Untuk itu, kegiatan ini menjadi wadah berbagi hasil riset terkini mengenai potensi sumber daya mineral Indonesia sekaligus memperkuat kolaborasi antarpeneliti dan akademisi. (ash, kia/ed. mg,MM)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....