Pantau Aktivitas Vulkanik Gunung Anak Krakatau, BRIN Tak Temukan Potensi Tsunami

  • 17 Sep 2026 00:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gunung Anak Krakatau terus dipantau menggunakan teknologi Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA) yang ditempatkan di sekitar kawasan gunung api, termasuk Pulau Rakata dan Pulau Panjang.
  • Hasil pemantauan aktivitas vulkanik pada periode awal September 2026 menunjukkan belum ada anomali muka air yang mengindikasikan potensi gelombang tsunami.
  • Upaya mitigasi bencana melalui pemantauan berkelanjutan menjadi fokus utama peneliti BRIN untuk mengantisipasi potensi bencana alam yang mungkin terjadi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Aktivitas vulkanik gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus dipantau, sebagai upaya mitigasi bencana. Salah satu yang patut diwaspadai ialah potensi terjadinya tsunami.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Semeidi Husrin menyampaikan hasil pemantauan aktivitas vulkanik gunung anak krakatau dengan menggunakan teknologi Inexpensive Device for Sea-Level measurement (IDSL) atau Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA) yang ditempatkan di sekitar Kawasan gunung api Anak Krakatau, termasuk Pulau Rakata dan (sebelumnya) Pulau Panjang. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas vulkanik pada periode awal September 2026 belum disertai anomali muka air yang mengindikasikan potensi gelombang tsunami.

“Secara umum, selama meningkatnya aktivitas gunung api Anak Krakatau, kami tidak menemukan ada anomali yang berpotensi bisa membangkitkan gelombang tsunami,” terang Semeidi kepada Tim Humas, Rabu 16 September 2026. Pemantauan juga menghadapi tantangan teknis di lapangan.

Aktivitas vulkanik dapat menghasilkan material yang menutupi panel surya dan mengganggu pasokan daya perangkat. Kondisi tersebut menyebabkan jeda penerimaan data selama sekitar 11 jam pada 6 September 2026. “Pada hari Senin, 7 September 2026 saat peristiwa jurnalis hilang kontak, kami mendeteksi peristiwa aneh karena ada anomali tapi kami pastikan itu bukan tsunami,” ucap Semeidi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem peringatan dini tidak hanya membutuhkan teknologi sensor, tetapi juga dukungan infrastruktur, pemeliharaan perangkat, serta sistem cadangan yang memadai. Salah satu perangkat pendukung yang dinilai penting adalah CCTV.

Kamera pemantau dapat membantu melakukan validasi visual ketika sensor mendeteksi adanya anomali. Informasi visual tersebut dapat digunakan untuk melihat kondisi lapangan dan membantu memastikan perubahan yang terdeteksi sensor.

Namun, CCTV yang berada di Pulau Rakata disebut telah lebih dari satu tahun tidak aktif dan membutuhkan perbaikan. Selain perbaikan perangkat, Semeidi menilai jumlah unit PUMMA yang tersedia saat ini juga perlu ditambah.

Satu unit di Pulau Rakata dinilai belum cukup untuk mendukung pemantauan kawasan secara optimal. Penambahan unit diperlukan untuk memperkuat cakupan monitoring sekaligus menyediakan perangkat pendukung apabila salah satu sensor mengalami gangguan.

Menurut Semeidi, kebutuhan ideal setidaknya enam unit yang ditempatkan di Pulau Sertung, Pulau Panjang, dan Pulau Rakata. Penguatan sistem peringatan dini tsunami juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor, perawatan perangkat, pembaruan data, penyempurnaan standar operasional prosedur, serta koordinasi antarlembaga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem tersebut.

“Kerja sama banyak pihak, ada pihak lokal, kementerian lembaga terkait, pihak internasional (JRC-EC), dan ada komponen masyarakat juga (Balawista),” kata Semeidi. Sebagaimana diketahui, BRIN berkontribusi dalam memperkuat kemampuan deteksi tersebut melalui pengembangan dan pemanfaatan teknologi Inexpensive Device for Sea-Level measurement (IDSL) atau Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA).

Teknologi ini dirancang untuk mendeteksi anomali muka air laut secara cepat, termasuk anomali yang dapat berkaitan dengan kejadian tsunam. Menurutnya, PUMMA tidak sekadar digunakan untuk mengukur pasang surut air laut.

Sistem tersebut secara khusus dirancang untuk menangkap perubahan atau anomali muka air. Karena itu, perangkat membutuhkan pengambilan data dalam interval yang rapat dan sistem transmisi yang cepat. (rgs/ed:kg,jml)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....