BRIN dan Jawa Satu Power Dorong Konservasi Tumbuhan Langka dan Restorasi Mangrove
- 16 Sep 2026 18:44 WIB
- Pusat Pemberitaan
Kawasan industri menghadapi berbagai tantangan lingkungan, mulai dari polusi suara generator, potensi polusi udara, debu jerami, kondisi tambak yang belum optimal, hingga tekanan terhadap satwa seperti perburuan. Di kawasan mangrove, sedimentasi juga menjadi persoalan karena dapat menutup pipa inlet yang digunakan untuk mengambil air laut.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan PT Jawa Satu Power (JSP) mengembangkan pendekatan berbasis riset melalui konservasi tumbuhan secara ex situ, pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH), serta restorasi ekosistem mangrove. Pengembangan kawasan ini diarahkan tidak hanya untuk menjaga keanekaragaman hayati dan meningkatkan kualitas lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar kawasan industri.
Ketua Tim Pelaksana Kerja Sama Riset BRIN dan JSP, Danang Wahyu Purnomo, Jumat (11/9/2026), menjelaskan pengelolaan RTH dan area konservasi mangrove dikembangkan melalui tiga konsep utama, yaitu konservasi tumbuhan terancam kepunahan dan mangrove, pengendalian ekosistem di sekitar kawasan pabrik agar tetap kondusif, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan pabrik.
“Konsep tersebut menjadi penting karena kawasan industri menghadapi berbagai tantangan lingkungan antara lain polusi suara generator, potensi polusi udara, debu jerami, kondisi tambak yang belum optimal, hingga tekanan terhadap satwa seperti perburuan,” Danang menjelaskan.
Ia mengungkapkan, RTH yang dikembangkan memiliki sejumlah fungsi, antara lain sebagai tempat pengembangan tumbuhan langka, anggrek, buah lokal, serta jenis tumbuhan yang berpotensi menyerap karbon dan polutan. Selain itu, kawasan tersebut juga dikembangkan untuk mendukung proses fitoremediasi serta menjadi tempat pengembangan tumbuhan yang berpotensi sebagai tanaman obat maupun tanaman ornamental.
“Konsep koleksi mencakup orchidarium, area fitoremediasi, dan koleksi tanaman langka. Taman anggrek dirancang menyerupai habitat alaminya, sementara tanaman penetralisir polutan dikembangkan berdasarkan proses fisiologis dan biokimia, serta tanaman terancam punah dikembangkan sebagai pohon inang bagi berbagai jenis anggrek,” ungkap Danang.
Maintenance Manager PLTGU PT JSP, Ahmad Solikin, menjelaskan bahwa kolaborasi tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap program Biodiversity Action Plan PT JSP. Program ini tidak hanya berorientasi pada aspek ekologis, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan ekosistem kawasan industri yang lebih kondusif dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Dalam pengembangan kolaborasi ke depan, Solikin berharap dapat dilakukan kajian terkait penanganan sedimentasi di area mangrove. “Selama ini salah satu kendala yang kami hadapi adalah pipa inlet yang kami gunakan untuk mengambil air laut tertutup oleh sedimen di muara mangrove,” ia menerangkan.
Direktur Pengelolaan Laboratorium Fasilitas Riset Kawasan Sains dan Teknologi (DPLFRKST), yang diwakili Ketua Tim Pengelola Laboratorium Pangan Gunungkidul, Kharistya Rozana, menjelaskan kegiatan tersebut juga menjadi bentuk kolaborasi dalam pemanfaatan infrastruktur riset dan inovasi, khususnya Laboratorium Pangan Gunungkidul.
“Sepanjang 2024–2025, telah dilakukan kajian potensi bioaktivitas anggrek liar, salah satunya Dendrobium crumenatum atau anggrek merpati. Sampel anggrek berasal dari hasil eksplorasi Taman Nasional Ujung Kulon dan koleksi Kebun Raya Bogor, yang kemudian dikaji di Laboratorium Pangan Gunungkidul dan menghasilkan publikasi pada jurnal internasional pada awal 2026,” ujar Kharis.
Sementara itu, Ketua Tim Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah, Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN, Dina Safarinanugraha, menjelaskan bahwa penanaman bibit dilakukan dari hasil perbanyakan tumbuhan di kebun raya. Kegiatan tersebut menjadi bentuk diseminasi ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus pemanfaatan koleksi ilmiah kepada masyarakat.
Ke depan, program kerja sama antara BRIN dan PT Jawa Satu Power tidak hanya terkait konservasi tumbuhan. Kerja sama ini dapat diperluas ke bidang lain yang relevan dengan visi dan misi JSP,” kata Dina.
Melalui pendekatan berbasis riset tersebut, pengembangan RTH tidak hanya diarahkan sebagai ruang hijau di kawasan industri. Kawasan ini juga dikembangkan sebagai area konservasi yang dapat menjadi habitat berbagai jenis tumbuhan, mendukung peningkatan kualitas lingkungan, sekaligus membuka ruang pemanfaatan hasil riset dan koleksi ilmiah bagi masyarakat. (ky/Ed:MM)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....