BRIN Kembangkan Pakan Ikan Berbasis Kecipir, Pertumbuhan Gurami Dua Kali Lipat
- 12 Agt 2026 18:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Kab. Bogor - Ketergantungan terhadap bahan baku impor masih menjadi salah satu tantangan besar bagi industri akuakultur Indonesia. Menjawab persoalan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengeksplorasi biji kecipir sebagai sumber protein lokal untuk pakan ikan, sekaligus mengembangkan teknologi pengolahan untuk meningkatkan nilai nutrisinya.
Inovasi tersebut dipaparkan Peneliti Kelompok Riset Nutrisi Hewan, Pusat Riset Zoologi Terapan, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) BRIN, Deisi Heptarina, dalam forum diseminasi ilmiah Zoopedia #21 di Gedung ICC, Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Bogor, Rabu, 6 Agustus 2026.
Menurut Deisi, persoalan pakan menjadi sangat strategis karena biaya pakan dapat mencapai 60-91% dari total biaya produksi budidaya ikan. Di sisi lain, industri pakan nasional masih bergantung pada impor bungkil kedelai sebagai salah satu sumber utama protein nabati. “Ketergantungan impor bungkil kedelai kita hari ini adalah ancaman akuakultur di masa depan,” tegas Deisi.
Ketergantungan tersebut, menurutnya, membuat industri akuakultur rentan terhadap gejolak global, mulai dari fluktuasi nilai tukar, gangguan rantai pasok, pandemi, hingga konflik geopolitik yang dapat mendorong kenaikan harga bahan baku. Ketika harga pakan meningkat sementara harga jual ikan tidak ikut naik, margin keuntungan pembudidaya pun semakin tertekan.
BRIN kemudian melihat peluang dari biji kecipir, tanaman tropis yang relatif mudah dibudidayakan, memiliki produktivitas tinggi dan toleran terhadap lahan kering. Menariknya, biji kecipir memiliki kandungan protein sekitar 34-40%.
Tidak hanya tinggi protein, Deisi mengungkapkan, biji kecipir juga mengandung sejumlah asam amino esensial, antara lain lisin, leusin, aspartat, dan glutamat. Bahkan, kandungan lisinnya disebut lebih tinggi dibandingkan bungkil kedelai sehingga berpotensi menjadi sumber protein lokal yang kompetitif.
Namun, kata Deisi, kecipir bukan tanpa tantangan. Bahan baku ini mengandung sejumlah senyawa antinutrien seperti HCN, asam fitat, tanin, dan serat kasar yang dapat menghambat penyerapan nutrisi oleh ikan. Untuk mengatasinya, peneliti BRIN mengembangkan tahapan pengolahan yang meliputi penggilingan, perendaman, pengurangan kadar minyak, serta penambahan enzim Non-starch Polysaccharides (NSP).
Enzim yang digunakan merupakan kombinasi endo-1,4-beta-xylanase, endo-1,4-beta-glucanase, fitase, dan protease. Teknologi tersebut dirancang untuk memecah senyawa antinutrien sehingga nutrisi yang terkandung dalam biji kecipir dapat lebih mudah dimanfaatkan oleh ikan. “Enzim berfungsi sebagai kunci biokimiawi untuk memecah senyawa antinutrisi, sehingga nutrisi yang terperangkap dapat dilepaskan dan lebih mudah dimanfaatkan ikan,” jelas Deisi.
Hasil riset kemudian diuji pada benih ikan gurami selama 60 hari dengan tiga perlakuan. Peneliti mengamati sejumlah parameter, mulai dari kecernaan nutrien, aktivitas enzim pencernaan, kondisi histologi organ pencernaan, pertumbuhan, efisiensi pakan, hingga tingkat kelangsungan hidup ikan.
Hasilnya cukup menjanjikan. Seluruh perlakuan mampu mempertahankan tingkat sintasan hingga 100%. Menariknya, formulasi pakan berbasis biji kecipir yang dipadukan dengan teknologi enzim menunjukkan kinerja pertumbuhan terbaik.
Bobot akhir ikan meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan kontrol. Laju pertumbuhan spesifik juga meningkat, sementara rasio konversi pakan atau Feed Conversion Ratio (FCR) membaik secara signifikan. Retensi protein pun meningkat, menunjukkan bahwa protein dalam pakan dapat dimanfaatkan lebih optimal untuk pembentukan jaringan tubuh ikan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa bahan baku lokal memiliki peluang untuk tidak sekadar menjadi substitusi bahan impor, tetapi juga menjadi bagian dari strategi membangun kemandirian industri pakan nasional.
Deisi menekankan, hasil penelitian ini merupakan langkah awal. Agar inovasi benar-benar memberikan dampak bagi pembudidaya, diperlukan kolaborasi lintas pihak, mulai dari peneliti, akademisi, pemerintah, industri, penyuluh, hingga pembudidaya ikan. Kolaborasi menjadi penting untuk memastikan teknologi yang dikembangkan dapat diterapkan secara luas, memiliki nilai ekonomi, serta mampu menjawab kebutuhan industri akuakultur di lapangan. “Kemandirian pakan dimulai dari riset, tetapi hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi,” pungkas Deisi.
Melalui pengembangan bahan baku lokal seperti biji kecipir, BRIN mendorong agar kekayaan sumber daya hayati Indonesia dapat diolah menjadi inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Dari tanaman lokal, riset diarahkan menuju pakan yang lebih efisien, industri akuakultur yang lebih tangguh, dan kemandirian pakan nasional. (yl/ed:ade,ugi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....