Eco Hex Brick Berbahan Limbah Plastik untuk Mitigasi Abrasi Pesisir

  • 09 Sep 2026 19:57 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Eco Hex Brick, material konstruksi berbahan limbah plastik yang dirancang sebagai Alat Penahan Ombak (APO) semipermeable untuk membantu mengurangi abrasi sekaligus mendukung rehabilitasi ekosistem pesisir. Inovasi tersebut dikembangkan dengan pendekatan yang memungkinkan terbentuknya sedimentasi di belakang struktur sehingga dapat menjadi media untuk pertumbuhan mangrove.

Inovasi Eco Hex Brick diperkenalkan dalam Webinar Product Knowledge Seri ke-6 yang diselenggarakan Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) BRIN dengan tema Alat Penahan Ombak (APO) Semipermeable Eco Hex Brick, Jumat, 4 September 2026. Pengembangan inovasi ini merespons dua persoalan lingkungan yang saling berkaitan, yakni meningkatnya timbulan limbah plastik dan semakin luasnya kawasan pesisir yang terdampak abrasi.

Kepala PRBB BRIN Akbar H. Dawam A. mengatakan, pengembangan Eco Hex Brick memiliki relevansi dengan berbagai upaya adaptasi perubahan iklim, khususnya dalam penanganan abrasi di kawasan pantai. Menurutnya, inovasi tersebut memanfaatkan limbah plastik menjadi material konstruksi yang memiliki fungsi, sekaligus diarahkan untuk mendukung pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam perlindungan pesisir.

“Material ini menarik karena tidak hanya memanfaatkan limbah plastik, tetapi juga dirancang untuk dikombinasikan dengan mangrove. Hal ini sebagai solusi penanganan abrasi yang lebih natural, bukan semata mengandalkan struktur beton,” ujarnya.

Dawam menambahkan, pengembangan Eco Hex Brick masih menghadapi tantangan karena harus mampu bertahan dalam kondisi lingkungan laut, antara lain paparan gelombang, air asin, dan cuaca ekstrem. Oleh karena itu, pengembangan teknologi terus didorong melalui riset dan kolaborasi lintas bidang agar dapat diterapkan secara lebih luas.

Inventor Eco Hex Brick sekaligus Periset PRBB BRIN, Deni Purnomo, menjelaskan bahwa inovasi tersebut dikembangkan dengan berangkat dari persoalan timbulan sampah plastik dan abrasi yang semakin luas di kawasan pesisir Indonesia. “Riset ini mencoba mengubah limbah plastik yang selama ini tidak memiliki nilai jual menjadi material yang memiliki fungsi dan kegunaan bagi masyarakat, khususnya untuk rehabilitasi kawasan pesisir,” jelas Deni.

Salah satu lokasi penerapan Eco Hex Brick adalah Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, yang dipilih sebagai lokasi pilot project karena merupakan salah satu kawasan yang mengalami dampak abrasi cukup parah. Kondisi tersebut menyebabkan permukiman, jalan, dan lahan pertanian terendam akibat kombinasi kemerosotan muka tanah dan kenaikan muka air laut.

Berbeda dengan struktur penahan pantai yang bersifat masif, Eco Hex Brick dirancang sebagai alat penahan ombak semipermeabel. Eco Hex Brick ini berfungsi memecah energi gelombang tanpa sepenuhnya membentuk penghalang terhadap pergerakan air.

“Struktur tersebut memungkinkan sedimentasi terbentuk di belakang bangunan, yang dapat menciptakan media untuk penanaman dan pertumbuhan mangrove. Harapannya sedimentasi yang terbentuk dapat mendukung pertumbuhan mangrove sehingga masyarakat pesisir memiliki perlindungan alami dari abrasi,” kata Deni.

Dari sisi material, Eco Hex Brick dibuat menggunakan limbah plastik yang tidak memiliki nilai ekonomi, seperti plastik multilayer dan plastik campuran. “Limbah tersebut dicacah dan dilelehkan, kemudian dicampur dengan agregat pasir halus sebelum dicetak menjadi bata berbentuk heksagonal dengan sistem interlock. Bentuk tersebut dipilih karena memiliki kekuatan mekanik yang tinggi sekaligus memudahkan proses pemasangan di lapangan,” ujarnya.

Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa formulasi tertentu Eco Hex Brick memiliki kekuatan tekan yang mendekati mutu beton K-300. Pengujian degradasi dan paparan sinar ultraviolet juga menunjukkan ketahanan material yang baik untuk diaplikasikan di lingkungan pesisir.

Penerapan Eco Hex Brick di Demak dilakukan melalui kolaborasi BRIN dengan Yayasan Bakau Manfaat, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), pemerintah daerah, serta kelompok masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut mencakup rangkaian kegiatan mulai dari pengumpulan limbah plastik, produksi material, pemasangan di lokasi terdampak abrasi, hingga pemantauan kondisi lingkungan setelah pemasangan.

“Hasil pemantauan awal menunjukkan mulai terbentuknya sedimentasi di belakang struktur penahan ombak dalam waktu relatif singkat setelah pemasangan. Beberapa bulan kemudian, kami juga menemukan biota laut mulai tumbuh pada permukaan Eco Hex Brick. Hal ini menjadi indikasi awal bahwa material yang dikembangkan tidak hanya berfungsi sebagai struktur penahan energi gelombang, tetapi juga berpotensi mendukung proses rehabilitasi ekologi kawasan pesisir,” tambahnya.

Menurut Deni, pengembangan Eco Hex Brick menjadi bagian dari upaya BRIN mendorong pengelolaan limbah berbasis inovasi yang dapat memberikan dampak bagi lingkungan dan masyarakat. Pemanfaatan limbah plastik sebagai material konstruksi sekaligus penerapannya untuk mendukung rehabilitasi pesisir mempertemukan dua persoalan lingkungan dalam satu pendekatan teknologi.

“Teknologi hanyalah alat, penyelesaian persoalan lingkungan membutuhkan kolaborasi antara peneliti, pemerintah, masyarakat, dan berbagai mitra. Tentunya agar inovasi benar-benar memberikan manfaat yang berkelanjutan,” pungkasnya.(dms/ed.aj, ns)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....