Legislator PKS Dorong BRIN Konsolidasikan AI Lokal Jadi Kekuatan Nasional

  • 13 Sep 2026 08:09 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Anggota Komisi X DPR RI Kurniasih mendorong BRIN memperkuat konsolidasi riset dan pengembangan kecerdasan buatan agar talenta serta inovasi AI lokal dapat menjadi kekuatan teknologi nasional.
  • Ia menekankan pentingnya orkestrasi antara perguruan tinggi, startup, industri, dan pengembang AI agar riset di berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, dan pertanian tidak berjalan sendiri-sendiri.
  • Kurniasih berharap hasil riset AI memiliki jalur hilirisasi yang jelas menjadi produk dan layanan berbasis konteks masyarakat Indonesia, didukung investasi pada talenta dan infrastruktur komputasi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Kurniasih Mufidayati, mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat konsolidasi riset kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, Indonesia memiliki talenta, riset, dan produk AI lokal yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan teknologi nasional.

Kurniasih menilai perkembangan agentic artificial intelligence membuka peluang bagi Indonesia membangun ekosistem AI yang mandiri dan kompetitif. BRIN dinilai dapat berperan sebagai penghubung pusat riset, perguruan tinggi, talenta, startup, industri, dan pengembang AI lokal.

“Indonesia sudah memiliki talenta dan berbagai inisiatif AI buatan lokal. BRIN dapat mengonsolidasikan kekuatan tersebut sehingga berkembang menjadi salah satu kekuatan AI besar yang dibangun dari kemampuan bangsa sendiri,” kata Kurniasih.

Menurutnya, konsolidasi diperlukan agar berbagai inovasi AI di lembaga dan institusi pendidikan tidak berkembang secara sendiri-sendiri. Ekosistem riset yang terhubung dapat memperkuat pengembangan model AI, infrastruktur komputasi, data, keamanan, hingga penerapannya sesuai kebutuhan nasional.

“Yang kita perlukan adalah orkestrasi. BRIN bisa menjadi penghubung antara riset di perguruan tinggi, inovasi anak bangsa, pengembangan teknologi oleh industri, dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Kurniasih mengapresiasi pemetaan BRIN terhadap sejumlah teknologi strategis nasional, termasuk semikonduktor, AI, biogenomik, dan komputasi kuantum. Khusus AI, riset perlu diarahkan pada sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, pertanian, lingkungan, kebencanaan, transportasi, dan industri kreatif.

Ia menilai Indonesia memiliki kebutuhan dan karakteristik yang khas dalam pengembangan teknologi AI. Kondisi tersebut dapat menjadi peluang untuk menghasilkan AI yang memahami bahasa, budaya, serta persoalan masyarakat Indonesia.

“AI yang kita kembangkan harus semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kita memiliki persoalan, data, bahasa, budaya, dan karakteristik sendiri yang dapat menjadi keunggulan dalam membangun AI yang relevan dengan Indonesia,” kata Kurniasih.

Selain riset, Kurniasih mendorong adanya jalur hilirisasi yang jelas agar hasil penelitian AI dapat dimanfaatkan masyarakat dan dunia usaha. Hasil riset diharapkan berkembang menjadi prototipe, kekayaan intelektual, produk teknologi, maupun layanan.

Ia juga menekankan pentingnya investasi pada talenta dan infrastruktur komputasi untuk memperkuat ekosistem AI nasional. Perguruan tinggi dan lembaga riset perlu mendapat ruang pengembangan, sementara talenta terbaik Indonesia harus didukung agar dapat berkarya di dalam negeri.

“Kalau talenta, riset, data, infrastruktur, dan industri bisa terkoneksi dengan baik, kita memiliki fondasi kuat untuk membangun AI nasional. Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga investasi untuk daya saing dan masa depan sumber daya manusia Indonesia,” ujarnya.

Kurniasih berharap BRIN dapat mengoptimalkan besarnya jumlah pengguna internet di Indonesia agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi AI asing. Ekosistem digital nasional diharapkan juga mampu mendorong lahirnya produk AI lokal yang kompetitif dan bermanfaat bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....