Riset Genetika BRIN Dukung Identifikasi Korban Bencana dan Forensik
- 03 Jul 2026 20:53 WIB
- Pusat Pemberitaan
Kemajuan teknologi DNA telah membuka peluang baru dalam berbagai bidang, mulai dari identifikasi korban bencana dan investigasi kriminal hingga pengembangan layanan kesehatan yang lebih personal. Melalui penelitian genetika manusia, para ilmuwan berupaya memahami keragaman genetik masyarakat sekaligus mengembangkan solusi berbasis sains untuk menjawab berbagai tantangan kemanusiaan dan kesehatan.
Peneliti Pusat Riset Biomedis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Abdul Hadi Furqoni, menjelaskan bahwa penelitian yang dikembangkannya berfokus pada bidang genetika manusia, DNA forensik, genetika populasi, dan genetika medis. Fokus tersebut mencakup pemanfaatan teknologi DNA untuk identifikasi manusia, analisis kekerabatan, pemetaan keragaman genetik populasi Indonesia, studi penyakit genetik, hingga pengembangan biomarker genetik yang berkaitan dengan kesehatan mental. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam wawancara pada Kamis (25/06).
Menurut Abdul Hadi, salah satu fokus penelitiannya dalam beberapa tahun terakhir adalah pemetaan genetik berbagai kelompok etnis di Indonesia, di antaranya suku Madura, Bali, Banjar Hulu, dan Tengger. Penelitian tersebut bertujuan mengidentifikasi variasi genetik yang dimiliki setiap kelompok etnis sekaligus membangun basis data yang dapat merepresentasikan keragaman genetik masyarakat Indonesia.
“Data tersebut memiliki nilai strategis dalam mendukung pengembangan database DNA nasional yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, terutama dalam identifikasi manusia pada kasus bencana massal,” jelas Abdul Hadi.
Ia menambahkan bahwa Indonesia sebagai negara yang berada di kawasan Ring of Fire memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi sehingga membutuhkan sistem identifikasi korban yang cepat dan akurat. Oleh karena itu, penelitian mengenai karakteristik genetik populasi Indonesia menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung kegiatan Disaster Victim Identification (DVI).
Selain melakukan pemetaan genetik populasi, Abdul Hadi juga mengembangkan penelitian mengenai identifikasi kekerabatan menggunakan saudara kandung. Metode ini dirancang untuk menjawab tantangan ketika korban bencana atau kasus tertentu tidak lagi memiliki orang tua kandung yang dapat digunakan sebagai pembanding DNA.
“Melalui analisis hubungan genetik antar saudara kandung, proses identifikasi tetap dapat dilakukan dengan tingkat akurasi yang tinggi. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan identifikasi korban pada berbagai kasus bencana maupun kasus kemanusiaan lainnya,” ujarnya.
Di bidang DNA forensik, Abdul Hadi meneliti pemanfaatan touch DNA untuk mendukung investigasi kriminal. Touch DNA merupakan DNA yang tertinggal pada suatu benda setelah terjadi kontak fisik dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi individu yang pernah menyentuh benda tersebut.
Berbagai jenis sampel telah diteliti, mulai dari jejak bibir, bercak biologis pada kain, cincin, masker, hingga berbagai barang bukti lain yang ditemukan di tempat kejadian perkara. Menurutnya, penelitian ini bertujuan mengoptimalkan metode ekstraksi dan analisis DNA dari sampel yang mengandung material biologis dalam jumlah sangat sedikit.
“Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan identifikasi pelaku maupun korban dalam kasus kriminal serta memperkuat penggunaan bukti ilmiah berbasis DNA dalam sistem peradilan dan penegakan hukum di Indonesia,” ungkapnya.
Kontribusi Abdul Hadi tidak hanya terbatas pada penelitian forensik di dalam negeri. Ia juga terlibat dalam proyek internasional repatriasi kerangka tentara Jepang yang gugur pada Perang Dunia II di Biak, Papua. Dalam proyek tersebut, ia berperan sebagai ahli DNA yang melakukan analisis terhadap sampel tulang dan kerangka yang ditemukan.
Tantangan utama dalam penelitian tersebut adalah kondisi sampel yang telah berusia puluhan tahun sehingga mengalami degradasi DNA yang cukup tinggi. Profil DNA yang berhasil diperoleh kemudian dibandingkan dengan DNA anggota keluarga yang berada di Jepang untuk memastikan identitas individu tersebut.
“Apabila hasil analisis menunjukkan kecocokan secara genetik, maka identitas individu dapat dipastikan dan kerangka tersebut dapat direpatriasi ke Jepang untuk dimakamkan secara layak oleh keluarganya,” tuturnya.
Menurut Abdul Hadi, proyek tersebut tidak hanya memiliki nilai ilmiah dalam pengembangan teknik identifikasi DNA pada sampel tulang tua, tetapi juga nilai kemanusiaan yang tinggi karena membantu keluarga memperoleh kepastian mengenai anggota keluarganya yang hilang selama perang.
Selain penelitian di bidang forensik dan genetika populasi, Abdul Hadi juga menaruh perhatian pada penyakit dan kelainan genetik pada manusia. Salah satu topik yang ditelitinya adalah kelainan kromosom, termasuk Down syndrome yang disebabkan oleh trisomi kromosom 21.
Ia menjelaskan bahwa penelitian tersebut bertujuan memahami mekanisme genetik yang mendasari terjadinya kelainan kromosom sekaligus mendukung upaya diagnosis dan edukasi masyarakat mengenai penyakit genetik.
“Studi mengenai kelainan genetik penting untuk meningkatkan pemahaman tentang hubungan antara perubahan genetik dan manifestasi klinis yang muncul pada individu, sehingga dapat berkontribusi pada pengembangan layanan kesehatan berbasis genomik di Indonesia,” jelasnya.
Saat ini, Abdul Hadi juga tengah mengembangkan penelitian yang berfokus pada hubungan faktor genetik dengan risiko bunuh diri dan gangguan kesehatan mental. Penelitian tersebut mengkaji variasi genetik yang berpotensi berasosiasi dengan kecenderungan perilaku bunuh diri, depresi, stres berat, dan berbagai gangguan kejiwaan lainnya.
Penelitian tersebut dilakukan melalui pendekatan multidisiplin dengan menggabungkan ilmu genetika, psikologi, dan psikiatri. Selain menganalisis faktor genetik, penelitian juga mengkaji keterkaitannya dengan berbagai parameter klinis yang diperoleh dari psikolog dan psikiater.
“Melalui pendekatan multidisiplin ini, kami berharap dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor biologis yang berperan dalam gangguan kesehatan mental. Dalam jangka panjang, hasil penelitian ini berpotensi menjadi dasar pengembangan sistem deteksi dini dan strategi pencegahan yang lebih efektif,” kata Abdul Hadi.
Melalui berbagai penelitian tersebut, Abdul Hadi menunjukkan bahwa genetika manusia tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Mulai dari mendukung identifikasi korban bencana, investigasi kriminal, diagnosis penyakit genetik, hingga pengembangan pendekatan kesehatan yang lebih personal dan berbasis bukti ilmiah. Dengan demikian, riset genetika diharapkan dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung pembangunan kesehatan dan kemanusiaan di Indonesia. (sh/ed:ade,jml)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....