Riset BRIN Buka Peluang Agribisnis Baru di Lahan Bekas Tambang
- 14 Sep 2026 07:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN Santoso mengatakan pengembangan peternakan membutuhkan pendekatan berbeda
- Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan BRIN Sindu Akhadiarto
- Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Samarinda Prof. Taufan Purwokusumaning Daru turut memaparkan perspektif pengembangan usaha
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melihat lahan bekas tambang sebagai peluang pengembangan agribisnis baru. Riset dan inovasi dinilai dapat mendorong pemanfaatan lahan tersebut menjadi kawasan produktif dan berkelanjutan.
Gagasan tersebut disampaikan dalam Webinar Risnov Ternak Series #31 yang digelar Pusat Riset Peternakan BRIN. Webinar bertema Prospek Pengembangan Usaha Peternakan Terpadu pada Lahan Bekas Tambang tersebut berlangsung daring, Rabu, 9 September 2026.
Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN Santoso mengatakan pengembangan peternakan membutuhkan pendekatan berbeda. Kondisi tanah, lingkungan, produktivitas, kesehatan ternak, investasi, serta kelayakan usaha perlu dikaji secara terpadu.
“Kita tidak ingin sekadar membuktikan bahwa ternak dapat dipelihara di lahan bekas tambang. Model usaha, teknologi, komponen operasional, dan kondisi pengembangan harus ditentukan melalui kajian," kata Santoso dikutip dalam laman brin.go.id, Senin, 14 September 2026.
Santoso menjelaskan peternakan terpadu harus menghubungkan ternak dengan tanaman, hijauan pakan, dan berbagai kegiatan agribisnis lainnya. Pendekatan tersebut diharapkan meningkatkan efisiensi sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan BRIN Sindu Akhadiarto memaparkan gagasan Agro Techno Park. Konsep tersebut disiapkan untuk mengoptimalkan lahan bekas tambang menjadi kawasan produktif berbasis teknologi dan inovasi.
Gagasan Agro Techno Park merupakan hasil kajian dan survei BRIN bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Salah satu lokasi yang disiapkan berada di Loa Kulu melalui kolaborasi BRIN dan PT Bramasta Sakti.
Kawasan tersebut dirancang sebagai percontohan peternakan terpadu dengan berbagai sektor agribisnis. Integrasinya mencakup peternakan, perikanan, hortikultura, tanaman pangan, dan perkebunan berbasis teknologi modern.
Konsep tersebut juga didukung penerapan smart farming untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas kawasan. Peternakan diharapkan menghasilkan daging dan telur sekaligus mendukung berbagai aktivitas ekonomi lainnya.
Sindu mengatakan peternakan dapat menghasilkan pupuk organik, menyediakan hijauan pakan, dan mengurangi limbah biomassa. Integrasi tersebut sekaligus membuka sumber pendapatan masyarakat melalui penerapan konsep bioekonomi sirkular.
Agro Techno Park tidak hanya diarahkan sebagai kawasan produksi, tetapi juga ekosistem kolaborasi. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan BRIN dapat berkolaborasi dalam pengembangan kawasan.
Kawasan tersebut juga diarahkan mendukung kegiatan riset, produksi, dan pengembangan agroeduwisata berbasis teknologi. Model tersebut diharapkan dapat direplikasi pada wilayah lain dengan karakteristik lahan yang sesuai.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Samarinda Prof. Taufan Purwokusumaning Daru turut memaparkan perspektif pengembangan usaha. Ia menguraikan tantangan dan peluang pengembangan peternakan pada lahan bekas tambang di Kalimantan Timur.
Sementara itu, Direktur PT Bramasta Sakti Wiwin Suhartanto menyampaikan perspektif pelaku usaha mengenai pemanfaatan lahan bekas tambang. Ia turut membagikan pengalaman serta tantangan pengembangan ternak di kawasan tersebut.
Melalui Webinar Risnov Ternak Series #31, BRIN mempertemukan peneliti, akademisi, pemerintah daerah, dan pelaku usaha. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam merumuskan pemanfaatan lahan bekas tambang secara produktif.
BRIN menawarkan pendekatan yang tidak sekadar mengubah lahan bekas tambang menjadi kawasan peternakan. Pengembangan diarahkan membangun sistem produksi terpadu berbasis teknologi, bioekonomi sirkular, dan kolaborasi.
Model tersebut diharapkan menghasilkan kawasan yang produktif, layak secara ekonomi, dan berkelanjutan. Pengembangannya juga berpotensi diterapkan pada wilayah lain sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....