BRIN: Desa Inovasi Hadirkan Pendekatan Holistik untuk Percepat Transformasi Desa

  • 05 Jun 2026 22:56 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

Pembangunan desa tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur fisik dan bantuan program. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan pendekatan Desa Inovasi yang dibangun melalui lima pilar utama, yakni penguatan masyarakat, ekonomi, pemerintahan desa, lingkungan, serta pelestarian budaya untuk mewujudkan desa yang maju, mandiri, dan berkelanjutan. Pendekatan ini diyakini mampu mewujudkan desa yang maju, mandiri, inklusif, dan berkelanjutan sebagai fondasi pembangunan nasional.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Siti Zuhro, menjelaskan bahwa Desa Inovasi merupakan model pembangunan yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, pembangunan desa perlu dilakukan secara holistik atau menyeluruh agar mampu menjawab tantangan sekaligus memanfaatkan potensi lokal yang dimiliki setiap desa.

“Desa tidak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran pembangunan, melainkan sebagai pusat pertumbuhan baru Indonesia. Membangun desa sama dengan membangun Indonesia,” ujarnya dalam paparannya mengenai Implementasi Lima Pilar Desa Inovasi pada BRIN Goes to Villages di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Ia menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak cukup diukur dari pembangunan fisik semata. Yang lebih penting dalam pembangunan yaitu bagaimana masyarakat desa mampu berkembang, berinovasi, dan menciptakan nilai tambah dari potensi yang dimiliki.

“Pembangunan fisik tentu penting, tetapi pembangunan manusianya jauh lebih penting. Yang ingin kita dorong adalah inovasi, kreativitas, dan kemandirian masyarakat,” katanya.

Dalam implementasinya, BRIN mengembangkan Desa Inovasi melalui lima pilar utama yang dijalankan secara simultan. Pilar pertama adalah pembangunan masyarakat yang cerdas dan inovatif melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia. Pilar kedua adalah penguatan ekonomi desa agar mampu menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pilar ketiga berfokus pada penguatan tata kelola pemerintahan desa yang adaptif dan inovatif. Pilar keempat menekankan pentingnya pelestarian lingkungan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Sementara pilar kelima adalah pelestarian budaya dan kearifan lokal yang menjadi identitas sekaligus kekuatan sosial masyarakat desa.

Menurut Siti Zuhro, aspek budaya tidak boleh dipisahkan dari pembangunan desa. Hal ini disebabkan, nilai-nilai lokal, tradisi, dan warisan budaya masih menjadi fondasi penting kehidupan masyarakat. Karena itu, konsep Desa Inovasi juga mengusung pendekatan local heritage yang bertujuan menjaga dan mengembangkan nilai-nilai luhur yang tumbuh di masyarakat desa. Pendekatan ini dinilai mampu memperkuat identitas desa sekaligus menjadi modal dalam mendorong pembangunan berbasis potensi lokal.

Siti juga menjelaskan bahwa keberhasilan Desa Inovasi sangat bergantung pada kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, BRIN, organisasi masyarakat sipil, media, dan dunia usaha memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem inovasi di tingkat desa.

“Tidak ada satu pihak yang dapat bekerja sendiri. Desa Inovasi dibangun melalui kolaborasi yang memungkinkan terjadinya percepatan pembangunan dan lahirnya masyarakat yang cerdas, produktif, serta inovatif,” ujarnya.

Pengembangan Desa Inovasi sebagai platform nasional tidak lepas dari berbagai tantangan yang perlu diantisipasi sejak awal. Siti mengatakan, salah satu tantangannya adalah tingginya variasi kapasitas antar desa, baik dari sisi sumber daya manusia maupun literasi digital. Hal ini mengakibatkan, tidak semua desa memiliki kesiapan yang sama untuk mengadopsi inovasi.

Selain itu, keberhasilan Desa Inovasi memerlukan sinergi antar pemangku kepentingan, penguatan kapasitas desa, dan dukungan kebijakan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, keberhasilan Desa Inovasi sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor, penguatan kapasitas masyarakat desa, serta komitmen bersama untuk membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan.

Siti menilai pendekatan lima pilar tersebut dapat menjadi fondasi pembangunan desa yang berkelanjutan sekaligus mendukung agenda nasional membangun dari desa. Dengan demikian, Desa Inovasi berperan sebagai game changer pembangunan nasional. Melalui penguatan masyarakat, ekonomi, tata kelola, lingkungan, dan budaya secara bersamaan, desa diharapkan mampu tumbuh sebagai pusat pertumbuhan baru yang berkontribusi terhadap pencapaian visi Indonesia Emas 2045.

“Desa Inovasi layak menjadi platform nasional. Pertama, karena sejalan dengan arah transformasi ekonomi Indonesia yang berbasis sumber daya dan inovasi. Kedua, karena desa dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru.Ketiga, karena konsep ini dapat menjadi solusi terhadap berbagai persoalan struktural, seperti urbanisasi yang berlebihan dan kesenjangan antara desa dan kota,” ujarnya. (MM)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....