Era AI: Kreativitas dan Emosi Manusia Jadi Barang Mewah
- 22 Mei 2026 01:42 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam proses kreatif, muncul pertanyaan baru bagi industri kreatif. Ketika mesin mampu menghasilkan konten secara instan, apa yang membuat karya manusia tetap bernilai?
Pertanyaan inilah yang menjadi inti pembahasan dalam panel “The AI Paradox in the Creative Industry” pada konferensi nasional The Cornerstone. Diskusi lintas generasi ini menghadirkan CEO Trinity Optima Production Yonathan Nugroho, CEO Visinema Angga Dwimas Sasongko, serta perwakilan pelajar Naomi Putri.
Diskusi ini membahas bagaimana AI mulai mengubah cara industri kreatif bekerja, sekaligus mengubah cara manusia memandang kreativitas itu sendiri. Mewakili perspektif generasi muda, Naomi Aisha Putri, siswi SMA Labschool Kebayoran, menyoroti bagaimana AI kini sudah menjadi bagian dari keseharian pelajar.
Terutama untuk membantu menyelesaikan tugas dengan lebih cepat dan praktis. Namun menurutnya, kemudahan tersebut tidak seharusnya membuat manusia menyerahkan seluruh proses kreatif kepada mesin.
“AI sebaiknya kita jadikan tantangan untuk memacu diri membuat karya yang jauh lebih baik dari hasil buatan mesin. AI adalah alat bantu, bukan pengganti proses kreatif kita,” ujar Naomi.
Baginya, kemampuan berpikir kritis dan keberanian untuk tetap menghasilkan karya yang jujur dan orisinal akan menjadi semakin penting di era AI. Naomi, yang menyimpan cita-cita untuk berkarier di balik layar industri perfilman di masa depan, merasa momen berdiskusi langsung dengan para tokoh.
Seperti Angga Dwimas Sasongko dan Yonathan Nugroho sebagai pengalaman yang sangat berkesan. Baginya, kesempatan ini bukan sekadar ajang bertukar pikiran, melainkan bentuk apresiasi dan pembelajaran nyata dari para ahli yang telah lama berkecimpung di dunia kreatif Indonesia.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinannya bahwa secanggih apa pun teknologi berkembang. Sisi kemanusiaan tetap menjadi ruh utama yang tidak boleh hilang dalam proses kreatif.
Pandangan tersebut disambut oleh CEO Visinema Pictures Angga Dwimas Sasongko yang menilai AI memang merupakan alat yang sangat kuat. Tetapi bukan sumber utama kreativitas manusia.
Dalam industri film, menurut Angga, AI sangat membantu dari sisi produktivitas dan pengambilan keputusan. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk membaca pola audiens.
Juga menganalisis blind spot dalam naskah, hingga membantu proses evaluasi konten secara lebih cepat dan efisien. Namun di balik efisiensinya, Angga mengingatkan bahwa orisinalitas manusia justru akan menjadi semakin berharga ketika konten buatan AI semakin masif.
Ia mengibaratkan fenomena tersebut seperti industri makanan: ketika konten instan berbasis AI semakin menyerupai “fast food”. Maka karya yang lahir dari pengalaman, perspektif, dan craftsmanship manusia akan terasa seperti “fine dining” yang memiliki nilai lebih tinggi.
Perspektif serupa juga disampaikan oleh CEO Trinity Optima Production Yonathan Nugroho. Dalam industri musik, AI dinilai sangat membantu untuk membaca tren, menganalisis potensi viral di media sosial, hingga mempercepat proses eksplorasi berbagai aransemen lagu.
Meski begitu, Yonathan menekankan bahwa musik tetap membutuhkan emosi, intuisi, dan interaksi manusia yang tidak dapat direplikasi sepenuhnya oleh mesin. Menurutnya, seefisien apa pun AI bekerja, audiens tetap mencari koneksi emosional yang lahir dari pengalaman manusia yang nyata.
Baik Angga maupun Yonathan juga menyoroti lambatnya perkembangan regulasi hak cipta dalam menghadapi perkembangan AI. Yonathan mencontohkan bagaimana platform streaming kini mulai mengambil langkah sendiri dengan menurunkan jutaan lagu yang dicurigai sepenuhnya dibuat oleh AI.
Meski regulasi masih terus berkembang, para pembicara sepakat bahwa generasi muda tidak perlu takut terhadap AI. Sebaliknya, teknologi tersebut harus dipahami dan dimanfaatkan secara bijak agar manusia tetap memiliki kendali atas proses kreatifnya sendiri.
Keberanian Naomi membawa perspektif pelajar ke tengah para pelaku industri kreatif menjadi bagian dari visi EduALL melalui The Cornerstone. Selama ini, EduALL dikenal sebagai konsultan pendidikan yang mendampingi pelajar Indonesia untuk melanjutkan studi ke universitas luar negeri.
Namun lebih dari itu, EduALL juga ingin membentuk generasi pembawa perubahan (Game Changer) yang tidak hanya unggul secara akademis. Tetapi juga memiliki keberanian berpikir kritis, menjaga identitas kreatif, dan mampu beradaptasi di tengah perubahan teknologi.
"Melalui dialog ini, kita melihat bahwa di era AI, aspek empati, perspektif, dan estetika manusia justru menjadi aset yang paling mahal. EduALL berkomitmen membekali pelajar agar mereka tidak sekadar menggunakan AI, tapi mampu mengarahkan teknologi tersebut tanpa kehilangan identitas kreatifnya," ujar CEO EduALL, Devi Kasih.
Sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap masa depan pendidikan Indonesia, The Cornerstone juga menyalurkan 100 persen hasil penjualan tiket. Melalui kolaborasi bersama Indonesia Mengajar untuk mendukung pemerataan akses pendidikan bagi anak-anak di berbagai wilayah pelosok Nusantara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....