PBB: Gangguan Pengiriman Pupuk di Selat Hormuz Ancam Ketahanan Pangan

  • 02 Okt 2026 14:11 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PBB memperingatkan gangguan pengiriman pupuk melalui Selat Hormuz dapat memperburuk ketahanan pangan global, terutama di negara berkembang yang bergantung pada pasokan pupuk dari kawasan Teluk.
  • Krisis telah mendorong kenaikan harga dan penurunan penggunaan pupuk, yang berpotensi menekan produktivitas pertanian dan memperburuk kerawanan pangan.
  • PBB menyiapkan mekanisme sementara untuk memungkinkan pengiriman pupuk melalui Selat Hormuz dengan koordinasi pencegahan konflik dan rute aman, tetapi pelaksanaannya masih menunggu mandat serta kemauan politik pihak-pihak yang terlibat.

RRI.CO.ID, Brussel — Pejabat senior PBB memperingatkan gangguan pengiriman pupuk melalui Selat Hormuz dapat berdampak serius terhadap ketahanan pangan global. Peringatan tersebut disampaikan Jorge Moreira da Silva pada Kamis, 1 Oktober 2026, dilansir dari Anadolu.

Moreira da Silva merupakan Wakil Sekretaris Jenderal PBB sekaligus Kepala Satuan Tugas PBB untuk Selat Hormuz. Ia menyampaikan peringatan tersebut kepada Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Eropa di Brussel.

Menurut Moreira da Silva, gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz telah memengaruhi ketahanan energi dan pangan global. Ia menekankan pentingnya mempertimbangkan dampak jika tidak ada tindakan untuk mengatasi gangguan tersebut.

Moreira da Silva mengatakan dampak krisis tersebut dapat menjadi tragedi bagi negara-negara berkembang. Sejumlah negara yang paling bergantung pada pasokan pupuk dari kawasan Teluk merupakan negara dengan perekonomian yang rentan.

Menurutnya, krisis tersebut telah menyebabkan kenaikan tajam harga pupuk dan penggunaan pupuk juga mengalami penurunan akibat kondisi tersebut. Penurunan penggunaan pupuk dapat berdampak terhadap produktivitas pertanian yang pada akhirnya dapat memperburuk kerawanan pangan.

PBB telah mengembangkan mekanisme untuk memungkinkan pengiriman pupuk melewati Selat Hormuz. Mekanisme tersebut dirancang sambil perundingan mengenai kebebasan navigasi yang lebih luas terus berlangsung.

Moreira da Silva menegaskan mekanisme tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan kebebasan navigasi. Mekanisme itu juga bukan alternatif bagi penyelesaian politik yang menyeluruh.

Sebaliknya, proposal tersebut dirancang sebagai pengaturan sementara dan khusus untuk mencegah krisis kemanusiaan. Berdasarkan mekanisme tersebut, agen pelayaran akan mendaftarkan permintaan pengiriman pupuk.

Setelah mendapatkan persetujuan, PBB akan memfasilitasi koordinasi pencegahan konflik dengan pihak-pihak terkait dan negara-negara lainnya. Kapal pengangkut pupuk nantinya akan diberikan rute yang aman.

Moreira da Silva menyebut proposal tersebut sebagai mekanisme untuk membangun kepercayaan. Mekanisme tersebut memungkinkan sejumlah pengiriman pupuk secara terbatas selama perundingan berlangsung.

Proposal tersebut telah mendapatkan dukungan luas dari negara-negara anggota PBB. Namun, PBB masih belum memperoleh mandat yang diperlukan dari kedua pihak yang terlibat dalam konflik.

Moreira da Silva mengatakan PBB terus berkomunikasi setiap pekan dengan Iran, Amerika Serikat, dan negara-negara Teluk untuk mencapai kesepakatan. Ia mengatakan PBB membutuhkan waktu tujuh hari untuk menempatkan pemantau di lapangan dan memastikan transit pupuk.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....