Malaysia Mulai Pulangkan 1.500 Pengungsi Rohingya ke Myanmar

  • 30 Sep 2026 13:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Malaysia mulai memulangkan hampir 1.500 pengungsi Rohingya ke Myanmar sebagai bagian dari rencana penerimaan kembali 5.000 warga Rohingya di sana.
  • PBB dan kelompok hak asasi manusia mempertanyakan keamanan pemulangan tersebut karena konflik dan kekerasan yang masih berlangsung di Myanmar.

RRI.CO.ID, Kuala Lumpur — Malaysia mulai memulangkan hampir 1.500 pengungsi dari kelangan etnis Rohingya ke Myanmar. Meski begitu, PBB dan kelompok hak asasi manusia memperingatkan bahwa kondisi di sana masih belum aman.

Dikutip dari Al Jazeera, Rabu 30 September 2026, Pemerintah Malaysia menyatakan pemulangan tersebut dilakukan secara sukarela. Puluhan bus dengan pengawalan polisi tiba di sebuah stadion dekat pangkalan angkatan laut Lumut, Malaysia, Selasa 29 September 2026.

Para pengungsi diperkirakan menjalani pemeriksaan sebelum dibawa ke pangkalan dan diangkut ke Myanmar melalui jalur laut. Gelombang kekerasan pada 2017 menyebabkan ratusan ribu warga Rohingya melarikan diri ke negara-negara tetangga.

Sejumlah kelompok hak asasi manusia menggambarkan kekerasan pada 2017 sebagai genosida. Di sisi lain, Myanmar tidak secara resmi mengakui Rohingya sebagai kelompok etnis yang memiliki akar lokal di negara tersebut.

Yangon menyebut etnis Rohingya sebagai “Bengali” dan menganggap mereka sebagai migran dari Bangladesh. Hingga Februari 2026, Malaysia menampung lebih dari 126.144 pengungsi Rohingya.

Bangladesh menjadi negara yang menampung pengungsi Rohingya terbanyak dengan jumlah lebih dari 1,2 juta orang. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengatakan Myanmar telah menyetujui penerimaan kembali 5.000 warga Rohingya.

Hampir 1.500 orang yang dipulangkan pada tahap pertama merupakan bagian dari kelompok tersebut. Kementerian Dalam Negeri Malaysia mengatakan dua kapal perang Myanmar dan satu kapal rumah sakit akan digunakan dalam proses pemulangan.

Badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mengatakan tidak terlibat dalam operasi pemulangan tersebut. Lembaga itu menilai konflik dan kekerasan yang masih berlangsung membuat kondisi untuk pemulangan yang aman dan bermartabat belum tersedia.

Aktivis hak asasi manusia mempertanyakan apakah pengungsi yang berada dalam tahanan dapat secara bebas memilih untuk kembali ke Myanmar. Nay San Lwin dari Arakan Rohingya National Council menyerukan Malaysia menghentikan seluruh pemulangan Rohingya hingga kondisi di Myanmar aman.

Ia mengatakan pertempuran antara militer Myanmar dan Arakan Army masih berlangsung di wilayah yang menjadi tanah air Rohingya. Menurutnya, Rohingya terjebak di tengah konflik dan menghadapi kekerasan dari kedua pihak yang bertikai.

Ro Mayyu Islam dari Center for Rohingya Crisis Studies juga menentang pemulangan Rohingya dalam kondisi saat ini. Ia mengatakan pemindahan Rohingya dari pusat penahanan Malaysia ke Myanmar tidak menyelesaikan akar krisis pengungsi.

Lebih dari 160 organisasi masyarakat sipil menyerukan penghentian repatriasi karena kekerasan dan risiko Rohingya dipaksa bergabung dengan kelompok bersenjata. Sementara itu, pemerintah Myanmar berjanji menyediakan kepulangan yang aman dan bermartabat bagi warga Rohingya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....