PBB: Perang Yaman Memasuki Fase yang Lebih Berbahaya

  • 11 Sep 2026 17:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Utusan Khusus PBB Hans Grundberg menyatakan perang di Yaman telah memasuki fase baru yang lebih berbahaya dengan runtuhnya gencatan senjata yang berlangsung selama empat tahun.
  • Kelompok Houthi berhasil merebut kota pelabuhan strategis Mocha pada hari Kamis, yang terletak di dekat Selat Bab al-Mandeb.
  • Dewan Keamanan PBB menggelar sidang khusus untuk membahas perkembangan terbaru di Yaman mengingat pentingnya Selat Bab al-Mandeb sebagai jalur penting bagi perdagangan dan energi internasional.

RRI.CO.ID, New York — Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg mengatakan perang di Yaman memasuki fase baru yang lebih berbahaya. Pernyataan tersebut disampaikan ketika gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung selama empat tahun mulai runtuh.

Dewan Keamanan PBB menggelar sidang mengenai perkembangan terbaru di Yaman setelah kelompok Houthi merebut kota pelabuhan strategis Mocha pada Kamis. Kota tersebut berada di dekat Selat Bab al-Mandeb yang merupakan jalur penting bagi perdagangan dan energi internasional.

Melansir dari Al Jazeera, Jumat, 11 September 2026, perebutan Mocha memberikan Houthi akses langsung ke wilayah dekat Bab al-Mandeb. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kebebasan navigasi di jalur perdagangan dan energi tersebut.

Grundberg mengatakan pertempuran telah menyebar ke sejumlah provinsi, termasuk Taiz, Hodeidah, Marib, al-Jawf, dan al-Bayda. Konflik tersebut menyebabkan warga sipil meninggal dan lebih dari 11.400 keluarga mengungsi sejak 3 September 2026.

Houthi juga melancarkan serangan terhadap infrastruktur sipil dan energi di Arab Saudi. Grundberg mendesak Houthi menghentikan serangan dan ancaman terhadap kapal-kapal komersial.

Ia juga menyerukan perlindungan terhadap warga sipil serta kelanjutan upaya untuk mencapai penyelesaian politik. Menurut Grundberg, dampak konflik tersebut tidak akan berhenti di wilayah Yaman.

Duta Besar Yaman untuk PBB, Abdullah Ali Fadhel Al-Saadi, mengecam serangan Houthi terhadap Arab Saudi. Ia menegaskan kembali hak Arab Saudi untuk membela diri dan menolak penggunaan wilayah Yaman untuk menyerang negara-negara tetangga.

Al-Saadi mengatakan eskalasi Houthi telah menyebabkan sedikitnya 6.145 keluarga atau sekitar 44.000 orang mengungsi. Ia juga memperingatkan serangan di Laut Merah dan kemajuan Houthi menuju Bab al-Mandeb mengancam pelayaran internasional.

Al-Saadi mendesak masyarakat internasional memperketat pembatasan terhadap senjata, komponen, dan keahlian yang diterima Houthi. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan daripada hanya berulang kali menangani serangan secara individual.

Duta Besar Arab Saudi untuk PBB Abdulaziz al-Wasil turut mengecam serangan Houthi pada 8 September di sejumlah wilayah Arab Saudi. Serangan tersebut melukai 73 warga sipil dan dinilai sebagai bagian dari eskalasi yang lebih luas yang mengancam kawasan serta pelayaran internasional.

Al-Wasil mendesak Dewan Keamanan PBB menegakkan Resolusi 2216 dan 2722 serta menghentikan dukungan yang memungkinkan terjadinya serangan. Di sisi kemanusiaan, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperingatkan kondisi pangan dan kekurangan gizi di Yaman semakin parah.

Yaman kini dikategorikan sebagai “titik rawan kelaparan dengan tingkat kekhawatiran tertinggi”. OCHA memperkirakan sekitar 18,3 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut atau tidak memiliki akses memadai terhadap makanan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....