Madani Malindo Kedua Libatkan Hampir Ratusan Cendekiawan Indonesia-Malaysia
- 21 Agt 2026 11:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hampir 70 Cendekiawan Indonesia dan 50 Malaysia hadiri Madani Malindo, peserta melampaui batas awal 99 cendekiawan, menunjukkan tingginya antusiasme memperkuat dialog Indonesia-Malaysia.
- Din berharap forum berikutnya tidak terpaku pada angka 99, meski angka tersebut memiliki makna Asmaul Husna.
- Menbud Fadli menilai tema Madani Malindo relevan dengan kondisi Indonesia yang memiliki 1.340 etnis dan 718 bahasa.
RRI.CO.ID, Jakarta - Sebanyak hampir 70 cendekiawan Indonesia dan 50 cendekiawan Malaysia hadir dalam Madani Malindo kedua. Antusiasme itu menunjukkan kuatnya minat cendekiawan kedua negara memperluas dialog tentang kemajemukan, budaya, dan peradaban kawasan secara bersama.
Keterangan tersebut disampaikan Cendekiawan Muslim, Din Syamsuddin saat menjelaskan komposisi peserta Madani Malindo kedua yang berlangsung di Jakarta. Menurutnya, peserta forum tidak seluruhnya mengikuti kegiatan secara penuh, karena sebagian lainnya hanya hadir dalam beberapa agenda.
"99 cendekiawan al-Asma'ul Husna, 40 dari tamu yang datang, 59 dari tuan rumah. Namun ini berkembang dari Malaysia hampir 50, dari Indonesia hampir 70," katanya kepada wartawan usai Jamuan Makan Malam Penyambutan Majelis Cendikiawan Madani Malaysia-Indonesia, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis malam, 20 Agustus 2026.
Ia menilai perkembangan jumlah peserta menjadi sinyal positif bagi kelanjutan forum cendekiawan Indonesia dan Malaysia di masa mendatang. Ia berharap Madani Malindo berikutnya dapat melibatkan lebih banyak cendikiawan, tanpa harus terpaku pada batas angka 99 peserta.
Menurutnya, angka 99 memang memiliki makna khusus karena merujuk pada Asmaul Husna, namun semangat kolaborasi tetap lebih utama. Forum ini diharapkan menjadi ruang bertukar gagasan semakin terbuka, sehingga hubungan Indonesia dan Malaysia terus tumbuh melalui kebudayaan.
Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menilai tema perjamuan delegasi Madani Malindo relevan dengan arah penguatan kebudayaan Indonesia saat ini. Menurutnya, tema 'Negara Madani Dalam Konfigurasi Kemajemukan Budaya' menggambarkan kondisi Indonesia yang kaya perbedaan, namun tetap menjaga persatuan.
Ia mengatakan Kementerian Kebudayaan masih berusia hampir dua tahun setelah dibentuk sebagai kementerian tersendiri oleh Presiden Prabowo Subianto. Kebudayaan sebelumnya kerap berada dalam rumpun pendidikan atau pariwisata, meski memiliki kekuatan strategis bagi bangsa Indonesia sendiri.
"Indonesia memiliki kemajemukan luar biasa, dengan 1.340 etnis dan 718 bahasa tersebar dari Sabang hingga Merauke. Keragaman tersebut bukan ancaman, melainkan kekuatan yang dapat memperkuat Indonesia sebagai negara kokoh dan berdaulat," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....