Iran Tolak Gencatan Senjata Baru, Tuntut Akhir Konflik Permanen
- 19 Agt 2026 16:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Iran secara tegas menolak gencatan senjata sementara baru dengan Amerika Serikat dan justru menuntut pengakhiran konflik secara permanen.
- Periode 60 hari dalam kesepakatan perdamaian sementara telah berakhir tanpa ada terobosan atau kemajuan signifikan dalam negosiasi.
- Washington juga menolak untuk memperpanjang kesepakatan sementara tersebut, yang menunjukkan kebuntuan diplomasi di kedua belah pihak.
RRI.CO.ID, Teheran — Iran menolak gencatan senjata sementara baru dengan Amerika Serikat dan justru menuntut pengakhiran konflik secara permanen. Sikap tersebut disampaikan di tengah kebuntuan diplomasi setelah periode 60 hari dalam kesepakatan perdamaian sementara berakhir tanpa terobosan.
Melansir dari Gulf News, Rabu, 19 Agustus 2026, Washington juga menolak memperpanjang kesepakatan tersebut. Seorang pejabat senior Iran mengatakan Amerika Serikat memiliki waktu beberapa pekan untuk memenuhi ketentuan kesepakatan sebelum pembicaraan lebih lanjut dilakukan.
Nota Kesepahaman Islamabad ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 17 Juni. Kesepakatan itu menyerukan penghentian segera operasi militer dan memberikan waktu 60 hari untuk merundingkan penyelesaian akhir.
Penyelesaian akhir tersebut mencakup masalah Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan sanksi. Periode 60 hari tersebut berakhir pada 17 Agustus tanpa kesepakatan mengenai perpanjangan.
Iran dan Amerika Serikat juga saling menuduh telah melanggar kesepakatan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut kesepakatan itu sebagai “pengakhiran perang, bukan gencatan senjata”.
Ia mengatakan Teheran belum memutuskan untuk kembali memulai perundingan langsung dengan Washington. Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan Iran.
Tuntutan tersebut mencakup pencabutan blokade laut terhadap pelabuhan Iran dan penghapusan sanksi minyak. Iran juga meminta pembebasan aset yang dibekukan serta penghentian ancaman militer.
Ghalibaf menegaskan tekanan Amerika Serikat tidak akan memaksa Iran menerima tuntutan yang berada di luar kesepakatan. Ia menilai Washington keliru jika menganggap tekanan lebih besar dapat memaksa Iran memberikan konsesi baru.
Di sisi lain, Trump mengatakan tidak ada pembicaraan atau percakapan yang sedang berlangsung maupun yang telah dijadwalkan dengan Iran. Trump juga menyatakan blokade laut AS masih berlaku dan Selat Hormuz tetap terbuka.
Pernyataan tersebut bertentangan dengan posisi Iran yang menyatakan Selat Hormuz masih ditutup. Ketegangan itu semakin berdampak terhadap aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandab.
Iran tidak ingin menerima penghentian sementara karena khawatir AS dan sekutunya akan memanfaatkan jeda tersebut untuk memperkuat posisi mereka. Sementara itu, Washington tampaknya berusaha meningkatkan tekanan ekonomi dan strategis sebelum membahas penyelesaian konflik secara permanen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....