Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup hingga AS Penuhi Komitmen

  • 19 Agt 2026 13:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat memenuhi seluruh komitmennya berdasarkan nota kesepahaman yang telah ditandatangani.
  • Iran akan menggunakan pendekatan diplomatik dan militer untuk menghadapi Washington dan memastikan Amerika Serikat memahami konsekuensi dari tindakannya.
  • Pernyataan tegas ini disampaikan dalam sidang Parlemen Iran pada Selasa, 18 Agustus 2026, menunjukkan posisi teguh Teheran dalam negosiasi internasional.

RRI.CO.ID, Teheran — Iran menegaskan Selat Hormuz tetap ditutup hingga Amerika Serikat memenuhi seluruh komitmennya berdasarkan nota kesepahaman yang telah ditandatangani. Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Selasa, 18 Agustus 2026 dalam sidang parlemen.

Melansir dari The Star, Ghalibaf mengatakan Teheran akan menggunakan cara diplomatik dan militer untuk menghadapi Washington. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar Amerika Serikat memahami konsekuensi dari tindakannya.

Ia menegaskan AS harus memenuhi seluruh komitmen dalam nota kesepahaman sebelum Selat Hormuz dapat dibuka kembali. Salah satu tuntutan Iran adalah pencabutan blokade yang diberlakukan Amerika Serikat.

Selain itu, Teheran meminta AS membebaskan aset-aset Iran yang dibekukan dan mencabut sanksi terhadap sektor minyak. Iran juga menuntut Washington mengakhiri berbagai ancaman serta operasi militer terhadap Iran di semua lini.

Ghalibaf menambahkan bahwa AS juga harus menjalankan persyaratan lain yang telah disepakati dalam nota kesepahaman tersebut. Ia menegaskan posisi Iran tidak akan berubah sebelum seluruh komitmen tersebut dipenuhi.

Ia mengatakan Teheran menerapkan pendekatan yang disebutnya sebagai "kekuatan logika dan logika kekuatan". Pendekatan tersebut dilakukan melalui koordinasi antara jalur diplomatik dan militer.

Menurut Ghalibaf, periode yang diberikan dalam nota kesepahaman telah memberikan sejumlah keuntungan bagi Iran. Salah satunya adalah meningkatnya ketahanan ekonomi negara tersebut.

Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman tersebut pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan itu bertujuan mengakhiri permusuhan antara kedua negara sekaligus membuka periode 60 hari untuk perundingan menuju kesepakatan akhir.

Namun, perundingan antara Iran dan AS kemudian mengalami kebuntuan. Perselisihan mengenai pelaksanaan nota kesepahaman menjadi salah satu penyebab terhentinya pembicaraan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....