Iran Bantah Trump, Tegaskan Kendali atas Selat Hormuz
- 15 Agt 2026 14:23 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Iran secara resmi menolak rencana Presiden Trump untuk menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat melalui pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi pada 14 Agustus 2026.
- Gharibabadi mengkritik pendekatan Trump dengan menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak dapat direbut hanya melalui unggahan media sosial, menunjukkan sifat absurd dari klaim tersebut.
- Iran menekankan bahwa kekuatan militer, termasuk kapal induk, juga tidak dapat digunakan untuk mengambil alih Selat Hormuz, mengindikasikan posisi teguh terhadap kedaulatan wilayah perairan strategis tersebut.
RRI.CO.ID, Teheran — Iran menolak klaim Presiden AS Donald Trump yang berencana menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyampaikan penolakan tersebut pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Gharibabadi mengatakan Selat Hormuz tidak dapat direbut hanya melalui unggahan di media sosial. Ia juga menyebut kapal induk tidak dapat digunakan untuk mengambil alih selat tersebut, dilansir dari Anadolu.
Menurutnya, perintah maupun pidato pemilu juga tidak dapat menentukan kepemilikan Selat Hormuz. Gharibabadi mendesak Amerika Serikat mengakui kekalahan strategis yang dialaminya dalam konflik dengan Iran.
Ia menegaskan Iran tidak takut terhadap ancaman dari AS dan tidak dapat diintimidasi melalui unjuk kekuatan militer. Gharibabadi menegaskan Selat Hormuz merupakan bagian dari wilayah Iran dan akan tetap berada di bawah kendali Teheran.
Menurutnya, pembukaan dan penutupan Selat Hormuz hanya akan dilakukan atas perintah Iran. Ia mengatakan Iran akan terus memberlakukan blokade di Hormuz hingga AS mengakui kekalahannya dan menghentikan tuntutannya.
Pernyataan tersebut menjadi respons terhadap klaim Trump mengenai kendali Amerika atas jalur strategis tersebut. Sebelumnya, Trump mengklaim Angkatan Laut AS sedang memberlakukan blokade penuh terhadap Selat Hormuz.
Trump juga mengatakan akan menyatakan selat tersebut sebagai wilayah AS setelah Iran dikalahkan dan akan dilakukan dalam waktu dekat. Pernyataan Trump semakin meningkatkan ketegangan antara Washington dan Teheran.
Pejabat Iran sebelumnya telah berulang kali menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama AS terus melakukan intervensi. Iran juga menuntut AS menghentikan blokade laut di Selat Hormuz.
Selain itu, Washington diminta memenuhi ketentuan kesepakatan kerangka kerja yang dicapai pada Juni. Melalui platform Truth Social, Trump sebelumnya mengklaim AS memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz.
Ia juga mengatakan yakin Amerika Serikat dapat mempertahankan kendali tersebut, namun langsung dibantah oleh pejabat militer Iran. Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ibrahim Zolfaqari, menegaskan tidak ada kapal yang diperbolehkan melewati Selat Hormuz tanpa izin Iran.
Zolfaqari juga mengatakan setiap pelayaran harus berada di bawah pengawasan angkatan bersenjata Iran. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Teheran tetap mempertahankan klaim kendali atas jalur strategis tersebut.
Perselisihan mengenai Selat Hormuz kini menjadi salah satu sumber utama ketegangan dalam konflik AS-Iran. Pertentangan kedua negara atas kendali selat tersebut berpotensi semakin memperburuk situasi keamanan dan perdagangan energi global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....