Iran Belum Putuskan Kembali Berunding dengan Amerika Serikat

  • 15 Agt 2026 14:32 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran belum mengambil keputusan untuk melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang.
  • Perbedaan pandangan mengenai pelanggaran gencatan senjata dan masa depan Selat Hormuz menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi.
  • Mediator dari Qatar dan Pakistan terus melakukan komunikasi dan pertukaran pesan dengan Iran untuk mendorong kelanjutan perundingan.

RRI.CO.ID, Teheran — Iran mengatakan belum mengambil keputusan untuk kembali berunding dengan Amerika Serikat guna mengakhiri perang. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan pernyataan tersebut pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dilansir dari Al Jazeera.

Keputusan itu masih tertunda karena adanya perbedaan mengenai pelanggaran gencatan senjata dan masa depan Selat Hormuz. Mediator dari Qatar dan Pakistan terus bertukar pesan dan berkomunikasi dengan Iran.

Namun, Araghchi menegaskan komunikasi tersebut belum berarti dimulainya kembali perundingan. Ia menyalahkan Amerika Serikat atas kembalinya kekerasan setelah nota kesepahaman atau MoU ditandatangani di Pakistan pada Juni.

Menurutnya, diperlukan jalur baru untuk mengakhiri konflik. Iran secara terpisah bekerja sama dengan Oman dalam proses teknis terkait rute pelayaran di Selat Hormuz.

Iran dan Oman sedang merancang rute baru karena jalur sebelumnya sudah tidak berfungsi yang nantinya direncanakan menjadi rute permanen. Namun, pembukaan kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz bergantung pada tercapainya solusi politik.

Iran juga menuntut Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan sebelum pelayaran kembali normal. Pernyataan Araghchi muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika.

Trump mengatakan rencana tersebut akan dilakukan setelah Iran dikalahkan. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menolak klaim tersebut, menegaskan Selat Hormuz adalah dan akan tetap menjadi milik Iran.

Perselisihan mengenai kendali atas jalur strategis tersebut terus meningkatkan ketegangan kedua negara. Setelah enam bulan perang, AS mulai menunjukkan pergeseran strategi menuju tekanan ekonomi terhadap Iran.

Tujuan Washington dan Israel sebelumnya adalah menggulingkan pemimpin Iran dan membuka kembali Selat Hormuz, tetapi tujuan tersebut belum tercapai. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan akan menerapkan langkah ekonomi baru terhadap Iran, mencakup isolasi ekonomi dan blokade pelabuhan Iran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....