AS Alihkan Fokus Perang Iran ke Harga Minyak
- 15 Agt 2026 12:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Presiden AS JD Vance mengumumkan pergeseran prioritas strategi Amerika Serikat dari fokus pada program nuklir Iran menjadi pengendalian harga minyak dan bensin untuk masyarakat Amerika.
- Menjaga harga energi tetap murah ditetapkan sebagai tujuan utama Washington saat ini dalam konteks relasi dengan Iran.
- Meskipun prioritas bergeser, pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir tetap menjadi tujuan penting berikutnya dalam agenda AS.
RRI.CO.ID, Washington — Prioritas Amerika Serikat dalam perang Iran bergeser dari program nuklir ke upaya menurunkan harga minyak dan bensin bagi masyarakat Amerika. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan menjaga harga energi tetap murah merupakan tujuan utama Washington saat ini.
Melansir dari AFP, Sabtu, 15 Agustus 2026, ia menambahkan, mencegah Iran memperoleh senjata nuklir tetap menjadi tujuan penting berikutnya. Pernyataan Vance menunjukkan perubahan fokus strategi AS dalam menghadapi Iran.
Selat Hormuz kini menjadi pusat perhatian dalam konflik tersebut karena merupakan salah satu jalur utama pasokan minyak dunia. Iran hampir sepenuhnya menutup Selat Hormuz sebagai bentuk pembalasan terhadap serangan AS dan Israel.
Penutupan tersebut memberikan Teheran pengaruh besar dalam menghadapi Washington. Kondisi tersebut juga menjadi kartu tawar bagi Iran dalam upaya mencari penyelesaian perang.
Presiden Donald Trump kini menghadapi tekanan untuk mengakhiri konflik tanpa memperburuk harga energi. Perang tersebut tidak populer di kalangan masyarakat Amerika, sementara tingkat persetujuan terhadap Trump juga dilaporkan menurun.
Vance mengatakan harga minyak telah turun dibandingkan titik tertinggi pada awal konflik. Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa sanksi ekonomi baru terhadap Iran akan segera diberlakukan.
Bessent bahkan mengancam akan membuat Iran mengalami isolasi ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Langkah tersebut menunjukkan bahwa Washington kini lebih mengandalkan tekanan ekonomi daripada serangan militer besar.
Trump mengatakan pemerintahannya sedang “menurunkan intensitas” konflik dan hanya melakukan negosiasi secara terbatas. Ia berharap tekanan ekonomi dan inflasi yang tinggi akan membuat Iran menyerah.
Di sisi lain, militer AS dilaporkan telah menghabiskan persediaan rudal dan persenjataan berteknologi tinggi selama perang. Persediaan senjata yang menipis dapat membatasi kemampuan Trump untuk kembali melancarkan serangan besar terhadap Iran.
Trump sebelumnya menyatakan akan menunda serangan baru jika kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz segera tercapai. Namun, Iran kini menetapkan sejumlah syarat untuk membuka kembali jalur tersebut.
Iran menuntut penghentian perang di seluruh front dan pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya. Teheran juga meminta penghapusan sanksi dan pembebasan aset Iran yang dibekukan.
Iran turut menuntut kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan selama perang yang kemungkinan sulit diterima oleh pemerintahan Trump. Persyaratan Iran juga mengingatkan pada nota kesepahaman yang dicapai pada Juni.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....