Negara Teluk Cari Jalur Alternatif Hadapi Krisis Selat Hormuz

  • 14 Agt 2026 14:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Negara-negara Teluk mencari jalur pelayaran alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz di tengah ketidakpastian dan blokade yang berlangsung berbulan-bulan.
  • Iran menyatakan akan tetap menutup Selat Hormuz sampai Amerika Serikat memenuhi kesepakatan kerangka kerja Juni dan memberikan kompensasi atas dugaan pelanggaran.
  • Para eksportir energi dari kawasan Teluk terdorong untuk menemukan rute pengiriman minyak alternatif guna menjaga kelancaran dan stabilitas ekspor mereka.

RRI.CO.ID, Riyadh — Negara-negara Teluk mulai mencari alternatif untuk menghindari ketergantungan pada Selat Hormuz di tengah ketidakpastian dan blokade berbulan-bulan. Kondisi tersebut mendorong para eksportir energi mencari jalur pelayaran lain untuk menjaga kelancaran pengiriman minyak.

Iran sebelumnya menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat memenuhi kesepakatan kerangka kerja Juni. Teheran juga menuntut kompensasi atas dugaan pelanggaran yang dilakukan Amerika Serikat, dilansir dari Deutsche Welle, Jumat, 14 Agustus 2026.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS telah menguasai Selat Hormuz. Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya negara-negara Teluk mencari jalur alternatif untuk mengurangi dampak gangguan di selat tersebut.

Arab Saudi menjadi salah satu negara yang berhasil mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya dari Hormuz. Negara tersebut menggunakan Pipa Timur-Barat untuk mengangkut minyak dari ladang di wilayah timur menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Langkah tersebut memungkinkan Arab Saudi mengirim minyak ke pasar global tanpa melewati Selat Hormuz. Pengiriman kargo dari pesisir Teluk Arab Saudi turun dari 47,5 juta ton menjadi 6,3 juta ton selama April dan Mei.

Pada periode yang sama, ekspor melalui Laut Merah meningkat dari 29,6 juta ton menjadi 54,8 juta ton. Tambahan ekspor melalui Laut Merah menggantikan sekitar 61 persen volume yang hilang dari sisi Teluk Persia.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya Pipa Timur-Barat sebagai jalur alternatif bagi Arab Saudi. Namun, Uni Emirat Arab menghadapi lebih banyak kendala meski memiliki jaringan pipa dan pelabuhan alternatif.

Pemerintah dan pakar industri kini membahas pembangunan jaringan pipa baru sebagai solusi jangka panjang. Namun, proyek-proyek tersebut membutuhkan biaya besar dan waktu bertahun-tahun untuk selesai.

Rute melalui Laut Merah juga memiliki risiko karena kapal harus melewati Bab al-Mandab yang rentan terhadap serangan kelompok Houthi. Kondisi ini menunjukkan bahwa menghindari satu titik rawan dapat membuat negara bergantung pada jalur lain yang juga memiliki risiko keamanan.

Sebelum konflik, sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi melewati Selat Hormuz setiap hari. Sementara itu, kapasitas jalur alternatif yang tersedia saat ini hanya mampu menggantikan sebagian kecil dari volume tersebut.

Para analis menilai Selat Hormuz masih sulit digantikan sepenuhnya. Penutupan yang berlangsung terlalu lama juga dapat mendorong terbentuknya koalisi internasional yang lebih luas untuk menghadapi Iran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....