Krisis Air Gaza Ancam Kesehatan Jutaan Warga Palestina

  • 12 Agt 2026 14:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PBB memperingatkan bahwa kekurangan air, sanitasi, dan fasilitas kebersihan di wilayah Palestina yang diduduki mengancam kesehatan masyarakat secara serius.
  • Kantor OCHA melaporkan bahwa lebih dari 1,3 juta orang (lebih dari separuh populasi) hanya memiliki akses kurang dari 6 liter air per orang per hari untuk minum dan memasak.
  • Mayoritas penduduk wilayah Palestina masih mengalami kesulitan signifikan dalam mendapatkan akses air yang memadai untuk kebutuhan dasar sehari-hari mereka.

RRI.CO.ID, Gaza — PBB memperingatkan bahwa kekurangan air, sanitasi, dan fasilitas kebersihan di wilayah Palestina yang diduduki mengancam kesehatan masyarakat. Sebagian besar penduduk wilayah tersebut masih kesulitan mendapatkan akses air yang memadai, dilansir dari Xinhua, Rabu, 12 Agustus 2026.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebut lebih dari 1,3 juta orang hanya memiliki akses kurang dari 6 liter air per orang per hari. Jumlah tersebut, yang mencakup lebih dari separuh populasi, digunakan untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak.

Jumlah tersebut jauh di bawah standar kemanusiaan dalam kondisi darurat. Standar tersebut menetapkan kebutuhan minimum air sebesar 15 liter per orang per hari untuk minum, mencuci, dan memasak.

Sekitar 700.000 orang lainnya hanya memiliki akses kurang dari 9 liter air domestik per orang setiap hari. Kondisi tersebut menyulitkan warga menjaga kebersihan diri, membersihkan rumah, serta memenuhi kebutuhan anak-anak.

Sekitar tiga dari empat warga bergantung pada truk untuk mendapatkan air. Mitra kemanusiaan setiap hari menyalurkan air ke lebih dari 2.500 titik pengambilan air dan lebih dari 100 lokasi pengungsian bulan lalu.

Namun, warga masih menghadapi kepadatan di sejumlah titik pengambilan air. Banyak keluarga tidak memiliki wadah yang cukup untuk membawa air pulang, sehingga tugas tersebut sering kali harus dilakukan oleh anak-anak.

Kondisi sanitasi juga menjadi perhatian serius. Hanya separuh rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi dasar atau fasilitas pribadi yang dapat mencegah kontak dengan limbah manusia.

Sementara itu, separuh rumah tangga lainnya menggunakan fasilitas bersama yang tidak memadai atau tidak aman, sehingga meningkatkan risiko kesehatan. Masalah pengelolaan sampah turut memperburuk situasi.

Mitra kemanusiaan mengumpulkan sekitar 80 persen sampah padat utama yang dihasilkan di Jalur Gaza. Namun, lebih dari 900.000 orang masih terpapar sampah yang menumpuk di kawasan permukiman.

OCHA menilai kondisi tersebut membutuhkan dukungan kemanusiaan yang berkelanjutan. Pendanaan yang konsisten diperlukan untuk mempertahankan layanan dasar bagi masyarakat, sementara tambahan izin untuk mengimpor suku cadang juga dibutuhkan.

OCHA juga menyerukan pembukaan kembali akses ke tempat pembuangan akhir di wilayah yang aksesnya dibatasi. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperbaiki layanan air, sanitasi, dan pengelolaan sampah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....