PBB: 300 Anak Meninggal di Gaza, Kekerasan Terus Berlanjut

  • 07 Agt 2026 17:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Warga sipil Gaza menghadapi serangan militer berkelanjutan termasuk penembakan artileri, tembakan senjata, dan serangan dari laut oleh Israel sejak pelaporan 6 Agustus 2026.
  • Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) melaporkan sedikitnya 300 anak meninggal di Gaza dalam periode 300 hari sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025.
  • Pekerja kemanusiaan PBB menilai kondisi keamanan semakin mengancam keselamatan masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok-kelompok rentan di Gaza.

RRI.CO.ID, Gaza — Warga sipil di Gaza terus menghadapi serangan militer intensif, penembakan artileri, tembakan senjata, serta serangan dari laut oleh Israel. Laporan tersebut disampaikan para pekerja kemanusiaan PBB pada Kamis, 6 Agustus 2026 terkait kondisi keamanan yang semakin mengancam warga Gaza.

Melansir dari Xinhua, kondisi tersebut dinilai semakin mengancam keselamatan masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) melaporkan sedikitnya 300 anak meninggal di Gaza dalam 300 hari sejak gencatan senjata Oktober 2025.

Jumlah tersebut berarti rata-rata satu anak meninggal setiap hari selama periode tersebut. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan anak-anak Gaza masih hidup dalam kondisi yang sangat sulit.

Mereka menghadapi tempat pengungsian yang penuh sesak serta keterbatasan akses terhadap air bersih dan layanan kesehatan. PBB bersama mitra kemanusiaan terus berupaya meningkatkan bantuan bagi warga terdampak.

Pekan lalu, organisasi pendukung perlindungan anak mendistribusikan lebih dari 800 paket kebersihan, wadah air, dan deterjen. Paket kebersihan tersebut didistribusikan kepada 50 keluarga pengungsi yang memiliki anak dan pengasuh.

Selain bantuan kebutuhan dasar, sebanyak 300 kartu identitas anak dan 500 buku catatan juga diberikan kepada anak-anak. Pada bulan sebelumnya, lebih dari 500 anak penyandang disabilitas menerima bantuan.

Bantuan tersebut berupa uang tunai, alat bantu, alat bantu jalan, popok, kasur medis, serta layanan rehabilitasi. Sebagai bagian dari upaya menangani kekerasan berbasis gender, mitra kemanusiaan juga membuka tempat aman baru di Gaza Utara.

Fasilitas tersebut menyediakan ruang bagi perempuan dan anak perempuan untuk mencari dukungan secara rahasia serta berbagi pengalaman. OCHA menyebut sekitar 8.400 perempuan dan anak perempuan mengikuti kegiatan di 85 tempat aman di seluruh Gaza setiap pekan.

Namun, organisasi kemanusiaan menekankan bahwa pendanaan tambahan dan akses aman ke seluruh wilayah masih diperlukan untuk memperluas layanan tersebut. Sementara itu, situasi di Tepi Barat juga dilaporkan memburuk.

OCHA mencatat lebih dari 1.380 insiden yang melibatkan pemukim Israel selama tujuh bulan pertama tahun ini. Insiden tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan properti, atau keduanya, dengan rata-rata sekitar 6,6 kejadian per hari di 250 komunitas Palestina.

Dalam periode yang sama, lebih dari 2.300 warga Palestina dilaporkan mengungsi akibat serangan pemukim dan pembatasan akses. PBB menyerukan peningkatan bantuan kemanusiaan serta perlindungan bagi warga sipil di Gaza maupun Tepi Barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....