Teknologi Ubah Sampah Jadi RDF, Asiana Soroti Tantangan Sampah Basah di Indonesia
- 12 Agt 2026 00:01 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PT Asiana Technologies memperkenalkan teknologi waste-to-fuel untuk mengolah sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF).
- Ia menjelaskan sampah perkotaan di Indonesia umumnya bercampur dan memiliki kandungan air yang tinggi.
- peningkatan pemanfaatan bahan bakar alternatif dari sampah dapat mengurangi ketergantungan industri terhadap batu bara.
RRI.CO.ID, Jakarta - PT Asiana Technologies memperkenalkan teknologi waste-to-fuel untuk mengolah sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF). Teknologi tersebut ditawarkan sebagai solusi pemanfaatan sampah sekaligus bahan bakar alternatif bagi sektor industri.
Teknologi ini diperkenalkan dalam ajang Indo Water, Indo Waste & Recycling, Indo Renergy & Electric, Indo Security, Indo Firex, dan IISMEX 2026 Expo & Forum di JIExpo Kemayoran, Jakarta. RDF yang dihasilkan disebut memiliki nilai kalor lebih dari 3.500 kilokalori per kilogram dan dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif.
CEO sekaligus Inventor Asiana Technologies, Poltak Sitinjak, mengatakan teknologi tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan karakteristik sampah di Indonesia. Salah satu persoalan utama adalah tingginya kadar air pada sampah perkotaan yang dapat memengaruhi proses pengolahan.
“Alternative fuel yang bersumber dari solid waste, baik sampah industri, sampah organik maupun sampah perkotaan, setelah kita konversi dapat menjadi energi baru terbarukan yang kita sebut solid fuel. Bahan bakar tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber energi alternatif bagi sektor industri,” ujar Poltak kepada media di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026.
Menurut Poltak, bahan bakar hasil pengolahan sampah dapat digunakan sebagai pendamping batu bara atau co-firing pada fasilitas industri. Pemanfaatannya tidak harus langsung menggantikan batu bara secara keseluruhan, tetapi dapat dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan pengguna.
Ia menjelaskan sampah perkotaan di Indonesia umumnya bercampur dan memiliki kandungan air yang tinggi. Karena itu, sampah perlu melalui proses pengolahan awal, termasuk pengurangan kadar air, sebelum material memenuhi spesifikasi untuk dijadikan bahan bakar.
“Karena kandungan air di sampah-sampah kita di Indonesia itu tinggi, jadi kami mengusulkan sampah diolah dulu. Setelah menjadi bahan bakar, baru digunakan di pembangkit atau pabrik yang menggunakan batu bara,” katanya.
Selain teknologi waste-to-fuel, Asiana Technologies memperkenalkan smart container untuk mendukung sistem pengangkutan sampah dari tempat penampungan sementara (TPS). Kontainer tersebut dirancang untuk menampung sampah sebelum diangkut menuju fasilitas pengolahan atau tempat pemrosesan akhir.
Poltak mengatakan satu unit smart container memiliki kapasitas hingga 20 ton sampah setelah melalui proses pemadatan. Sistem tersebut juga dirancang untuk membantu mengurangi volume sampah sekaligus memisahkan air lindi agar dapat diolah lebih lanjut.
“Setelah penuh, ada AI yang memberi tahu operator untuk melakukan penjemputan. Dengan sistem tersebut, proses pengangkutan dapat dilakukan ketika kapasitas kontainer telah terpenuhi,” ujar Poltak.
Smart container dapat ditempatkan di TPS untuk menampung sampah dari lingkungan permukiman sebelum diangkut oleh kendaraan khusus. Sistem kontainer tertutup tersebut diklaim dirancang untuk mengurangi potensi gangguan lingkungan selama proses penampungan.
Teknologi smart container yang digunakan berasal dari Eropa, sementara Asiana Technologies menargetkan proses manufakturnya dilakukan di Indonesia. Perusahaan juga mengklaim tingkat komponen dalam negeri (TKDN) produk tersebut dapat mencapai lebih dari 75 persen.
Di sisi pengolahan, Poltak menyebut teknologi waste-to-fuel Asiana Technologies telah diterapkan di Rorotan, Jakarta. Menurut dia, fasilitas tersebut menerima sekitar 2.500 ton sampah per hari untuk kemudian diolah menjadi bahan bakar.
Meski demikian, angka mengenai kapasitas pengolahan dan hasil produksi tersebut merupakan keterangan dari pihak perusahaan. Data operasional serta capaian produksi masih memerlukan verifikasi dari pihak terkait dan data lapangan.
Poltak mengatakan bahan bakar hasil pengolahan sampah tersebut diarahkan untuk digunakan oleh sektor industri, termasuk industri semen. Ia menyebut Solusi Bangun Indonesia dan kelompok usaha Semen Indonesia sebagai perusahaan yang telah menggunakan atau menjajaki pemanfaatan bahan bakar alternatif tersebut.
Menurut Poltak, peningkatan pemanfaatan bahan bakar alternatif dari sampah dapat mengurangi ketergantungan industri terhadap batu bara. Langkah tersebut sekaligus membuka peluang pemanfaatan material sampah yang sebelumnya berakhir di tempat pemrosesan akhir.
Selain Jakarta, Asiana Technologies mengaku tengah menjajaki kerja sama pengolahan sampah dengan sejumlah daerah. Pembicaraan disebut dilakukan dengan pemerintah daerah di Bekasi, DKI Jakarta, Padang, Palembang, dan Ogan Komering Ulu.
Poltak mengatakan skema kerja sama yang ditawarkan diarahkan pada investasi dan penjualan bahan bakar hasil pengolahan sampah kepada industri. Perusahaan mengklaim model tersebut tidak menggunakan dana APBD dan tidak meminta tipping fee dari pemerintah daerah.
“Pada intinya, kita mengolah sampah di Indonesia dengan teknologi ini tidak menggunakan dana APBD dan tidak meminta tipping fee. Kita menghasilkan bahan bakar dan menjualnya ke industri,” kata Poltak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....