Indonesia-Tiongkok Jajaki Kerja Sama Pengembangan Teknologi Misil dan Roket

  • 21 Agt 2026 21:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia akan menjajaki kerja sama dengan Tiongkok untuk mengembangkan teknologi pertahanan, termasuk teknologi pembuatan misil dan roket.
  • Kerja sama tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan 2+2 antara Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan RI-RRT, Jumat, 21 Agustus 2026 di Kemlu RI, Jakarta.
  • Indonesia dan Tiongkok juga terus mengembangkan kerja sama di bidang latihan militer, salah satunya melalui Heping Garuda.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia akan menjajaki kerja sama dengan Tiongkok untuk mengembangkan teknologi pertahanan, termasuk teknologi pembuatan misil dan roket. Kerja sama tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan 2+2 antara Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan RI-RRT, Jumat, 21 Agustus 2026 di Kemlu RI, Jakarta.

Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, kerja sama industri pertahanan Indonesia-Tiongkok akan melanjutkan sejumlah pembahasan yang telah dilakukan sebelumnya. Salah satunya mencakup kerja sama pembangunan pabrik amunisi di Indonesia.

"Kita akan kerja sama di dalam pabrik amunisi. Kita akan kerja sama dengan misil, roket dan sebagainya yang belum kita buat," kata Sjafrie seusai pertemuan 2+2 yang berlangsung di Gedung Nusantara.

Menurut Sjafrie, Tiongkok juga diharapkan dapat membantu Indonesia melalui transfer teknologi. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya memperoleh produk pertahanan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi serupa secara mandiri.

"Dia (Tiongkok-red) bantu dan dia akan kirim transfer teknologi. Agar supaya kita bisa membangun pabrik bersama-sama di Indonesia," ujarnya menambahkan.

Sjafrie menegaskan, transfer teknologi menjadi salah satu hal yang ditekankan Indonesia dalam pembahasan kerja sama industri pertahanan dengan Tiongkok. Indonesia ingin mengembangkan kemampuan teknologi militernya dengan memanfaatkan pengalaman dan teknologi yang telah dikembangkan Tiongkok.

"Yang saya angkat adalah mengenai bagaimana RRT bisa melakukan transfer teknologi terhadap Indonesia yang juga ingin mengembangkan teknologi militer yang serupa. Dengan apa yang sudah dilaksanakan oleh RRT," ucap Sjafrie.

Ia menyebut, pengembangan teknologi misil dan roket tersebut ditargetkan mulai direalisasikan di Indonesia paling lambat pada 2027. Kerja sama itu akan dilakukan dalam bentuk pengembangan bersama atau joint development.

"Ini paling lambat 2027 (dimulai-red). Jadi joint development yang pindah pasti PT Pindad," ujar Sjafrie.

Selain industri pertahanan, Indonesia dan Tiongkok juga terus mengembangkan kerja sama di bidang latihan militer. Salah satunya melalui Heping Garuda yang dijadwalkan berlangsung sekitar September-Oktober 2026.

Sjafrie mengatakan, latihan tersebut merupakan bagian dari pembinaan dan peningkatan kerja sama militer kedua negara. Termasuk melalui pertukaran personel baik secara individu maupun satuan.

“Heping Garuda di tahun 2026 ini sama dengan Garuda Shield yang dilaksanakan bulan September. Jadi di dalam pembinaan latihan kemudian tukar-menukar personel, itu kita lakukan baik secara perorangan maupun secara kesatuan,” ucap Menhan RI.

“Heping Garuda di sekitar September-Oktober. Saya kurang jelas (lokasi-red), mungkin di sekitar Sumatra.”

Pertemuan 2+2 RI-RRT turut dihadiri Menhan Dong Jun, Menlu Sugiono serta Menlu Wang Yi. Pelaksanaannya dilakukan setelah Dialog Strategis Komprehensif (CSD) pertama RI-RRT di Kemlu RI, Jakarta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....