Bhikkhu Partono Bongkar Kunci Dialog Lintas Agama yang Harmonis

  • 21 Agt 2026 17:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tiga kompetensi lintas agama dinilai penting bagi guru untuk memahami perbedaan keyakinan dan membangun dialog yang sehat.
  • Keterbukaan dalam beragama diperlukan agar perbedaan keyakinan tidak menjadi jarak dan tetap mendukung kehidupan masyarakat yang harmonis.
  • Media digital dan AI dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan kemanusiaan serta menyeimbangkan informasi kebencian di kalangan generasi muda.

RRI.CO.ID, Jakarta - Bhikkhu Partono Nyanasuryanadi Mahathera menekankan tiga kompetensi untuk membangun dialog sehat di tengah perbedaan keyakinan. Menurutnya, pemahaman lintas agama membantu guru melihat perbedaan secara terbuka, sehingga dialog masyarakat berlangsung nyaman dan saling menghargai.

"Tiga kompetensi ini berdiri dari berbagai pandangan, terutama agama-agama, sehingga para guru memiliki cara melihat perbedaan secara luas," katanya dalam konferensi pers Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) 2026 bagi delegasi Kamboja, Laos, dan Vietnam, Hotel Mercure Cikini, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Agustus 2026. Ia mengungkapan tantangan dialog juga muncul dari keterbatasan akses teknologi, bagi masyarakat yang berada di wilayah dengan fasilitas terbatas.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperluas cara pandang beragama agar masyarakat mampu menerima perbedaan dan perubahan dunia berlangsung dinamis. Menurutnya, sikap terbuka menjadi modal penting agar perbedaan keyakinan tidak berkembang menjadi jarak dalam kehidupan masyarakat.

"Kita bersama-sama menggunakan berbagai media untuk promosi kemanusiaan, sekaligus mengimbangi informasi kebencian dengan pesan yang menenangkan generasi sekarang," ujarnya. Ia menilai media digital dan teknologi kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi kegiatan menarik, interaktif, dan diterima masyarakat.

Pemanfaatan media tersebut dinilai penting untuk menghadirkan konten kemanusiaan yang relevan, terutama bagi generasi muda yang dekat teknologi. Dengan pendekatan kreatif, dialog lintas agama diharapkan semakin mudah diterima dan mampu memperkuat toleransi dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Penasehat Institut Leimena, Alwi Shihab mengatakan LKLB 2026 mendorong peserta delegasi memahami prinsip agama sebelum membangun komunikasi dengan kelompok berbeda. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi bekal penting agar perbedaan keyakinan tidak berkembang menjadi sikap intoleran dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Ia menegaskan setiap peserta perlu memiliki kompetensi pribadi untuk memahami prinsip utama agamanya secara utuh dan lebih mendalam. Ia menilai pemahaman agama yang baik membantu seseorang bersikap toleran sekaligus mampu menjaga batas nilai keyakinan masing-masing secara baik.

"Setiap agama mengajarkan toleransi, tetapi pemahaman teks keagamaan terkadang dipengaruhi konteks serta kepentingan politik tertentu di masyarakat bersama. Karena itu, peserta LKLB perlu memahami prinsip agamanya agar tidak melewati batas dan tetap terbuka membangun kerja sama," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....