Merawat Perbedaan, LKLB Perkuat Toleransi dan Solidaritas Negara ASEAN

  • 21 Agt 2026 23:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • LKLB membutuhkan kerja bersama dan konsisten untuk memperkuat toleransi serta dialog lintas budaya di kawasan ASEAN.
  • Negara ASEAN memiliki konteks keberagaman berbeda, sehingga pendekatan literasi keagamaan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing masyarakat.
  • LKLB sejalan dengan agenda ASEAN 2045 dalam mendorong perdamaian, keadilan, toleransi, dan kohesi sosial kawasan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Peneliti ASEAN Yuyun Wahyuningrum menilai Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) membutuhkan kerja bersama yang konsisten. Menurutnya, keberagaman masyarakat membuat pendekatan dialog harus terus berkembang sesuai konteks sosial dan kebutuhan setiap negara di kawasan.

Institut Leimena dinilai memperluas kerja LKLB dengan melibatkan guru agama serta aktor penting dari berbagai negara ASEAN lainnya. Tahun ini, delegasi Vietnam, Kamboja, dan Laos mengikuti program memahami pengalaman Indonesia merawat keberagaman melalui dialog lintas budaya.

"LKLB itu kerja keras, kerja bersama, kerja terus menerus, dan kerja meluas untuk menjawab kebutuhan masyarakat," katanya dalam konferensi pers Literasi Keagamaan Lintas Budaya 2026 bagi delegasi Kamboja, Laos, dan Vietnam, Hotel Mercure Cikini, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Agustus 2026. Ia mengatakan perbedaan konteks membuat penguatan literasi keagamaan perlu dilakukan terus menerus agar manfaatnya terasa luas bagi masyarakat.

Menurutnya, ketertarikan negara ASEAN terhadap LKLB muncul karena setiap negara memiliki pengalaman berbeda dalam merawat keberagaman masyarakat. Filipina, misalnya, memiliki komunitas Muslim sebagai minoritas, sementara Thailand, Kamboja, dan Laos memiliki mayoritas masyarakat beragama Buddha masing-masing.

Kondisi tersebut membuat negara-negara ASEAN memiliki kebutuhan untuk belajar tentang toleransi, dialog, serta pengelolaan perbedaan secara bijak bersama. Media sosial dan teknologi juga membuat perbedaan semakin terlihat, sehingga masyarakat membutuhkan cara baru merawat hubungan antar kelompok.

"Kita melihat keingintahuan dari negara ASEAN tentang cara merawat keberagaman, terutama ketika media sosial semakin memperlihatkan perbedaan," ujarnya. Menurutnya, LKLB menawarkan metodologi yang dapat direplikasi untuk membantu negara-negara kawasan menghadapi tantangan keberagaman secara kontekstual dan relevan.

Ia menyebut pendekatan LKLB memiliki relevansi kuat dengan agenda regional ASEAN yang menempatkan perdamaian sebagai tujuan bersama bagi kawasan. LKLB telah masuk dalam ASEAN 2045 Blueprint, termasuk melalui kerangka ASEAN Political-Security Community yang mendorong toleransi dan keadilan.

Selain itu, agenda LKLB juga berkaitan dengan ASEAN Socio-Cultural Community melalui upaya membangun perdamaian, pembangunan serta kohesi sosial. Keselarasan tersebut menunjukkan bahwa literasi keagamaan lintas budaya bukan sekadar program pendidikan, tetapi kebutuhan kawasan yang semakin penting.

"Dari perspektif regional, LKLB memiliki tujuan relevan dengan blueprint ASEAN untuk membangun perdamaian serta kohesi sosial," ucap Yuyun. Ia berharap kolaborasi lintas negara terus diperluas agar pengalaman Indonesia dapat menjadi inspirasi bagi toleransi di kawasan ASEAN.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....