PBB: Gaza Masih Tidak Aman meski Gencatan Senjata Telah Berlaku

  • 06 Agt 2026 15:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • OCHA memperingatkan bahwa Gaza masih belum aman bagi warga sipil meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah berlaku sejak Oktober 2025.

RRI.CO.ID, Jenewa — Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperingatkan bahwa Gaza masih belum aman bagi warga sipil. Meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah mulai berlaku sejak Oktober 2025.

OCHA menyatakan serangan Israel terus berlanjut, termasuk yang menyasar sekolah dan ruang kelas darurat berbahan tenda. Wakil Juru Bicara PBB, Farhan Haq, mengatakan seorang siswa di kota Gaza terluka akibat tembakan saat di ruang kelas.

Dilansir dari UN News, Kamis, 6 Agustus 2026, korban kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. PBB juga menyoroti meningkatnya penembakan dan serangan terhadap sekolah di wilayah Palestina yang diduduki, mulai dari Gaza hingga Tepi Barat.

PBB menegaskan warga dan infrastruktur sipil harus dilindungi sesuai hukum humaniter internasional. Organisasi tersebut juga menekankan ruang belajar harus tetap menjadi lingkungan yang aman bagi siswa maupun guru.

Mitra PBB melaporkan adanya serangan baru terhadap infrastruktur sipil di Gaza. Pasukan Israel dilaporkan menghancurkan rumah-rumah warga dan sekolah terakhir yang tersisa di kompleks pendidikan Beit Lahia.

Mereka juga menghancurkan tenda-tenda yang menjadi tempat berlindung bagi hampir selusin keluarga. Mitra kemanusiaan PBB telah mengerahkan bantuan bagi warga yang mengungsi akibat serangan tersebut.

Mitra kemanusiaan PBB telah mengerahkan bantuan bagi warga yang mengungsi akibat serangan tersebut. Namun, pasukan Israel dilaporkan memasang balok-balok semen baru di sekitar lokasi.

Langkah tersebut disebut sebagai perluasan kawasan terbatas di luar ketentuan gencatan senjata. Serangan Israel sejak berlakunya gencatan senjata dilaporkan telah menewaskan 1.209 orang dan melukai 3.943 lainnya di Gaza.

Di Tepi Barat, lebih dari 80 sekolah Palestina saat ini menghadapi perintah pembongkaran atau tindakan serupa. Otoritas Israel juga dilaporkan menghancurkan sebagian bangunan sekolah di kawasan Masafer Yatta, Hebron Selatan.

Tindakan itu terjadi di tengah tekanan terhadap lebih dari 1.000 warga Palestina untuk meninggalkan wilayah tersebut. PBB menyatakan mitra pendidikan telah menjangkau lebih dari 60.000 siswa di Tepi Barat melalui program pembelajaran remedial dan pemulihan.

Program tersebut mencakup rehabilitasi 30 sekolah. Program itu juga memberikan bantuan transportasi dan perlindungan kepada lebih dari 2.600 siswa serta tenaga pendidik di daerah berisiko tinggi.

PBB juga menyalurkan bantuan tunai khusus pendidikan, dukungan psikososial, dan bantuan hukum. Meski begitu, PBB menegaskan pendanaan untuk mendukung upaya kemanusiaan dan sektor pendidikan di wilayah Palestina masih sangat terbatas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....