Harga Minyak Melonjak usai Gencatan Senjata AS-Iran Runtuh
- 29 Jul 2026 12:13 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Konflik kembali memanas setelah saling serang antara AS dan Iran, mendorong harga minyak Brent melonjak hingga sekitar US$87 per barel dan meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran menyebabkan lalu lintas kapal tanker turun lebih dari 50 persen, sementara biaya pengiriman dan premi asuransi diperkirakan tetap tinggi.
- Meski negara produsen lain meningkatkan produksi dan negara pengimpor mengalihkan pembelian minyak, para analis menilai pasokan dari luar Timur Tengah belum cukup untuk menggantikan volume minyak dari kawasan Teluk.
RRI.CO.ID, Jakarta — Pasar minyak global kembali menghadapi tekanan setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran runtuh. Hal tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah Brent dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Sebelumnya, penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Washington dan Teheran pada 17 Juni sempat meredakan kekhawatiran pasar. Selama hampir tiga pekan, pelaku pasar meyakini risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah telah berakhir sehingga harga minyak Brent turun.
Melansir dari The Edge Malaysia, Rabu, 29 Juli 2026, harga minyak Brent turun ke sekitar US$72 (Rp1,3 juta) per barel pada awal Juli. Optimisme tersebut berakhir ketika Iran meluncurkan serangan rudal terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Amerika Serikat kemudian membalas dengan menyerang aset militer pesisir Iran serta mencabut izin sementara yang memungkinkan ekspor minyak Iran. Iran kembali merespons melalui serangan drone dan rudal ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain.
Teheran juga menyatakan Selat Hormuz ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut. Sementara itu, Washington kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Eskalasi konflik tersebut langsung mengguncang pasar energi. Harga minyak Brent melonjak 9,6 persen pada 13 Juli sebelum menyentuh US$87 (Rp1,5 juta) per barel keesokan harinya.
Nominal tersebut sekitar 19 persen lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang pada Februari. Kenaikan harga ini memperlihatkan perbedaan antara pasar berjangka dan pasar fisik minyak.
Selama ini pasar berjangka memperkirakan pasokan akan melimpah, sedangkan pasar fisik justru menunjukkan kondisi yang jauh lebih ketat. Kepala Strategi Pasar Hilltower Resource Advisors, Tracy Shuchart, menilai pasar berjangka terlalu optimistis terhadap pemulihan pasokan yang belum benar-benar terjadi.
Sementara itu, DBS Research memperingatkan biaya transit dan premi asuransi di Selat Hormuz kemungkinan tetap tinggi meski konflik mereda. Dampak konflik juga terlihat pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Setelah sempat pulih sebagian pasca-MoU, jumlah kapal tanker yang melintasi jalur tersebut kembali merosot lebih dari 50 persen. Di tengah situasi tersebut, negara-negara penghasil minyak di luar kawasan Teluk meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan pasar.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga berupaya mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz melalui jalur pipa ekspor. Sementara itu, negara-negara pengimpor mulai mengalihkan pembelian minyak ke Amerika Serikat, Brasil, Afrika Barat, dan Rusia.
Namun, para analis menilai pasokan alternatif tersebut belum mampu menggantikan besarnya volume minyak yang selama ini dipasok dari Timur Tengah. Kondisi ini membuat pemerintah, perusahaan kilang, dan pelaku industri energi di Asia menghadapi ketidakpastian baru.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....