IEA Peringatkan Pasar Minyak Dunia Bisa Masuk “Zona Merah” pada Juli
- 22 Mei 2026 15:04 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IEA memperingatkan pasar minyak dunia berpotensi memasuki “zona merah” pada Juli atau Agustus akibat menipisnya stok global dan meningkatnya permintaan energi selama musim perjalanan musim panas.
- Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menilai pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh menjadi langkah paling penting untuk mencegah tekanan lebih besar terhadap pasokan energi global.
- IEA menyebut konflik di Timur Tengah telah memicu gangguan energi terbesar dalam sejarah modern, dengan negara berkembang di Asia dan Afrika diperkirakan menjadi wilayah yang paling terdampak.
RRI.CO.ID, London — Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperingatkan kondisi pasar minyak dunia semakin mengkhawatirkan. IEA menilai pasar energi global dapat memasuki “zona merah” pada Juli atau Agustus mendatang.
Kondisi tersebut dipicu oleh terus menipisnya stok minyak global di tengah meningkatnya permintaan energi selama musim perjalanan musim panas. Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, mengatakan situasi pasar energi global saat ini semakin mengkhawatirkan.
Ia menilai pembukaan penuh dan tanpa syarat Selat Hormuz menjadi solusi paling penting untuk mengatasi guncangan energi akibat perang Iran. Menurutnya, pasar minyak dunia dapat menghadapi tekanan lebih besar dalam beberapa bulan mendatang, dikutip dari CNBC, Jumat, 22 Mei 2026.
Kondisi tersebut bisa terjadi apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali dan tidak ada tambahan pasokan minyak baru dari Timur Tengah. Ia menyebut kondisi tersebut berpotensi membawa pasar minyak memasuki “zona merah” dalam beberapa bulan ke depan.
Pernyataan itu disampaikan Birol dalam sesi diskusi Chatham House mengenai krisis Selat Hormuz dan keamanan energi global. Dalam kesempatan tersebut, IEA kembali menegaskan bahwa pasar energi dunia kini menghadapi gangguan paling parah dalam sejarah.
Birol menjelaskan bahwa pasar sebelumnya masih terbantu oleh kondisi surplus cadangan minyak global yang sempat meredam dampak awal konflik. Namun, cadangan tersebut kini terus menyusut seiring meningkatnya konsumsi dan terganggunya distribusi energi dunia.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi internasional. Sekitar 20 persen minyak dunia dan gas alam cair melewati jalur tersebut setiap harinya.
Namun, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz hampir berhenti total sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran. Konflik tersebut memicu ketidakpastian besar terhadap pasokan energi global.
IEA memperingatkan bahwa negara-negara berkembang di Asia dan Afrika kemungkinan akan merasakan dampak paling besar dari krisis tersebut. Selain sektor energi, Birol juga menyoroti ancaman terhadap ketahanan pangan global akibat terganggunya distribusi dan tingginya harga energi.
Ia menambahkan bahwa produksi dan penyulingan minyak di Timur Tengah kemungkinan membutuhkan waktu lama untuk kembali ke tingkat sebelum perang. Karena itu, IEA menyatakan siap mengoordinasikan pelepasan tambahan cadangan minyak strategis apabila situasi memburuk.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....