Oman dan Iran Bahas Keamanan Pelayaran Selat Hormuz

  • 25 Jul 2026 16:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Oman dan Iran membahas pengelolaan pelayaran di Selat Hormuz, termasuk mekanisme navigasi di jalur strategis yang menjadi rute utama perdagangan energi dunia.
  • Iran menyatakan terbuka mengelola Selat Hormuz bersama Oman, sementara Amerika Serikat dan negara-negara Teluk menolak usulan tersebut. Oman menegaskan pentingnya menjaga kebebasan navigasi dan kelancaran perdagangan internasional.
  • Ketegangan di Selat Hormuz masih berlanjut, di tengah saling serang antara Amerika Serikat dan Iran serta mandeknya implementasi Memorandum of Understanding (MoU) akibat perbedaan pandangan mengenai kebebasan navigasi.

RRI.CO.ID, Teheran — Delegasi Oman tiba di Teheran untuk membahas pengelolaan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Pembahasan tersebut difokuskan pada mekanisme navigasi di jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.

Dilansir kantor berita IRNA, kunjungan delegasi Oman merupakan bagian dari konsultasi yang terus berlangsung antara kedua negara. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi.

Melansir dari Al Jazeera, Sabtu, 25 Juli 2026, pembicaraan telepon tersebut membahas situasi di Selat Hormuz. Iran belum mengungkapkan rincian usulan yang dibahas, namun menegaskan tetap terbuka untuk mengelola Selat Hormuz bersama Oman.

Di sisi lain, Amerika Serikat dan negara-negara Teluk menolak gagasan tersebut. Oman sendiri memiliki posisi strategis di pintu masuk Selat Hormuz dan berperan sebagai mediator dalam berbagai sengketa kawasan.

Badr Albusaidi mengatakan, Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Ia menekankan, Selat Hormuz harus bebas dari segala tindakan yang menghambat kebebasan navigasi maupun arus perdagangan global.

Selat Hormuz menjadi jalur pengiriman sekitar 20 persen ekspor minyak dan gas dunia sebelum konflik pecah. Oleh karena itu, ketidakstabilan di kawasan memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Sementara itu, Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan meski upaya diplomatik untuk menghidupkan kembali MoU terus dilakukan. Kesepakatan tersebut sebelumnya gagal diterapkan akibat perbedaan pandangan mengenai kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....