IEA Peringatkan Risiko Keamanan Energi Global Meningkat
- 22 Jul 2026 14:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IEA memperingatkan meningkatnya risiko keamanan energi global akibat ketegangan di Timur Tengah yang menambah ketidakpastian terhadap pasokan dan pasar energi dunia.
- Pasar minyak global masih mendapat dukungan dari berbagai faktor penyangga, seperti pasokan negara-negara Teluk, peningkatan ekspor Amerika Serikat, Brasil, Venezuela, dan Kazakhstan, serta pelepasan cadangan minyak strategis.
- IEA menyerukan penyelesaian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh, karena gangguan berkepanjangan di jalur tersebut dapat memperburuk risiko pasokan energi global dan mengganggu perdagangan energi dunia.
RRI.CO.ID, Paris — Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan meningkatnya risiko keamanan energi global akibat ketegangan yang terjadi di Timur Tengah. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan perkembangan terbaru di kawasan tersebut telah meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi.
Melansir dari Xinhua, Rabu, 22 Juli 2026, kondisi tersebut juga menambah ketidakpastian terhadap prospek pasar energi global. Menurut Birol, pasar minyak global masih mendapat dukungan dari sejumlah faktor penyangga.
Negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk tetap mempertahankan pasokan yang besar. Sementara itu, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berupaya menjaga aliran minyak ke pasar internasional melalui jalur alternatif di luar Selat Hormuz.
IEA memperkirakan ekspor minyak dari kawasan Teluk masih berada di atas tingkat yang tercatat antara awal Maret hingga pertengahan Juni. Namun, jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan puncaknya pada akhir Juni.
Peningkatan ekspor minyak mentah dari Amerika Serikat, Brasil, Venezuela, dan Kazakhstan juga membantu mengurangi dampak kekurangan pasokan dari kawasan tersebut. Selain itu, pelepasan cadangan minyak strategis oleh negara-negara anggota IEA turut membantu meredakan tekanan pasar.
Sejak 11 Maret, negara-negara anggota IEA telah menyalurkan sekitar 290 juta barel minyak ke pasar. Namun, mereka masih memiliki cadangan darurat lebih dari 1 miliar barel yang berada di bawah kendali pemerintah.
IEA memperingatkan risiko keamanan pasokan energi tidak boleh diabaikan di tengah meningkatnya konflik dan menurunnya persediaan minyak komersial. Aktivitas penyulingan serta pasokan produk olahan minyak juga pulih lebih lambat dibandingkan pasokan minyak mentah.
Hal tersebut menyebabkan pasar produk olahan menjadi lebih ketat. Peningkatan pasokan gas alam cair atau LNG dari Amerika Serikat, Kanada, dan sejumlah produsen lain membantu mengurangi dampak kekurangan pasokan.
Pasokan tambahan tersebut mampu menggantikan sekitar 70 persen gangguan pasokan akibat masalah di Selat Hormuz. Namun, keterlambatan pemulihan ekspor dari kawasan Teluk dapat memperpanjang tekanan terhadap pasar energi.
Kondisi tersebut juga berpotensi berdampak pada negara-negara pengimpor LNG yang sedang mengisi cadangan gas untuk menghadapi musim dingin mendatang. IEA menyerukan penyelesaian konflik yang sedang berlangsung untuk mencegah memburuknya keamanan energi global.
Lembaga tersebut secara khusus meminta pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat. Menurut IEA, jalur tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia.
IEA menilai gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat meningkatkan risiko terhadap pasokan energi global. Oleh karena itu, langkah diplomasi dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasar energi dan mencegah krisis yang lebih besar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....