IEA Peringatkan Stok Minyak Dunia Menyusut Cepat akibat Konflik Timteng

  • 22 Mei 2026 15:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyebut persediaan minyak global terus menyusut dan hanya cukup untuk beberapa pekan ke depan di tengah gangguan pasokan energi.
  • Konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, menyebabkan terganggunya distribusi minyak dunia dan mendorong penurunan persediaan minyak pada tingkat rekor.
  • IEA memperingatkan volatilitas harga minyak kemungkinan terus meningkat menjelang puncak permintaan musim panas, sementara negara-negara pengimpor energi berpotensi menghadapi tekanan harga bahan bakar yang lebih tinggi.

RRI.CO.ID, Paris — Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperingatkan bahwa stok minyak komersial dunia terus menurun cepat. Penurunan tersebut terjadi akibat dampak konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah, dilansir dari Xinhua dan Reuters.

Birol menyampaikan peringatan tersebut saat menghadiri pertemuan menteri keuangan negara-negara G7 di Paris. Menurut Birol, dunia masih memiliki pasokan minyak untuk beberapa pekan ke depan.

Namun, ia menegaskan bahwa persediaan tersebut terus berkurang dengan cepat. Ia juga mengingatkan bahwa kondisi pasar energi global saat ini berada dalam situasi yang rentan.

Birol mengatakan pelepasan cadangan strategis yang dilakukan pada Maret lalu telah membantu menambah pasokan sekitar 2,5 juta barel per hari. Langkah tersebut diambil untuk mengurangi dampak gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa cadangan strategis tidak dapat digunakan tanpa batas. Cadangan minyak komersial yang dimaksud merupakan persediaan minyak mentah yang tersedia untuk dijual di pasar internasional.

Penurunan stok tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Pada 11 Maret, sebanyak 32 negara anggota IEA sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat mereka.

Keputusan itu diambil sebagai respons terhadap gangguan distribusi minyak akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Gangguan terbesar terjadi di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.

Konflik di kawasan tersebut menyebabkan hilangnya sebagian pasokan minyak global. Situasi itu juga memicu penurunan persediaan minyak dunia dengan kecepatan yang disebut mencapai tingkat rekor.

Dalam laporan pasar minyak terbarunya yang dirilis 13 Mei, IEA memperingatkan bahwa volatilitas harga minyak kemungkinan masih akan terus terjadi. Risiko tersebut diperkirakan meningkat menjelang puncak permintaan energi pada musim panas.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi global. Negara-negara pengimpor energi dikhawatirkan akan menghadapi tekanan harga bahan bakar yang lebih tinggi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....