Blokade Selat Hormuz, IMF, IEA, Bank Dunia Peringatkan Risiko Krisis BBM

  • 30 Mei 2026 16:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IMF, IEA, dan Bank Dunia memperingatkan risiko kekurangan bahan bakar global jika lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz tidak segera kembali normal, di tengah gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.
  • Gangguan di Selat Hormuz mengancam pasokan energi dan stabilitas ekonomi global, karena jalur tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia, sementara persediaan minyak global terus menyusut.
  • Negara-negara berpendapatan rendah diperkirakan menjadi yang paling terdampak, dengan kebutuhan bantuan keuangan mencapai 20–50 miliar dolar AS akibat lonjakan harga energi dan pupuk serta perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

RRI.CO.ID, Washington — Dana Moneter Internasional (IMF), Badan Energi Internasional (IEA), dan Bank Dunia memperingatkan risiko terjadinya kekurangan bahan bakar global. Risiko tersebut dapat terjadi apabila lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz tidak segera kembali normal.

Melansir dari Gulf Newa, Sabtu, 30 Mei 2026, peringatan tersebut disampaikan melalui pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh ketiga lembaga internasional tersebut. Mereka menyoroti berlanjutnya gangguan pasokan energi global akibat konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Ketiga lembaga menilai penutupan atau gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat mengancam pasokan energi global.

Menurut mereka, persediaan minyak dunia terus menyusut akibat berkurangnya pasokan yang biasanya melewati jalur pelayaran tersebut. Mereka memperingatkan, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan pasokan bahan bakar, mengganggu stabilitas pasar energi, serta melemahkan ketahanan ekonomi global.

Risiko tersebut dinilai semakin besar menjelang musim panas di Belahan Bumi Utara, ketika permintaan energi biasanya mengalami peningkatan. Dalam pernyataan tersebut, IMF, IEA, dan Bank Dunia juga menyoroti dampak konflik Timur Tengah terhadap kenaikan harga energi dan pupuk.

Menurut mereka, negara-negara berpendapatan rendah menjadi pihak yang paling terdampak oleh kenaikan harga energi dan pupuk. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena banyak negara saat ini tengah memasuki musim tanam yang membutuhkan pasokan pupuk dalam jumlah besar.

Iran membatasi pelayaran melalui Selat Hormuz setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Jalur tersebut biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Gangguan yang terjadi telah memengaruhi perdagangan internasional dan mendorong kenaikan harga energi global. Sebagai respons, pada April lalu IMF, Bank Dunia, dan IEA membentuk kelompok koordinasi untuk menyusun langkah penanganan krisis.

Ketiga lembaga berupaya memastikan dukungan ekonomi dapat diberikan secara lebih terkoordinasi di tengah meningkatnya tekanan terhadap pasar energi dunia. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, sebelumnya menyatakan bahwa konflik yang berlangsung telah memaksa IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global.

Ia memperkirakan negara-negara rentan akan membutuhkan bantuan keuangan dalam jumlah besar untuk menghadapi dampak krisis tersebut. Nilainya diperkirakan berkisar antara 20 miliar hingga 50 miliar dolar AS (Rp356,4 – Rp891,1 triliun).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....