PBB: Aktivitas Militer Israel Picu Pengungsian di Tepi Barat

  • 11 Jul 2026 16:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Aktivitas militer Israel di Tepi Barat meningkatkan pengungsian warga Palestina, dengan lebih dari 3.200 orang mengungsi sepanjang tahun ini akibat serangan pemukim dan pembongkaran bangunan.
  • Pembatasan dan pembongkaran memperburuk situasi kemanusiaan, termasuk meningkatnya risiko perlindungan serta terbatasnya akses warga Palestina terhadap perumahan, mata pencaharian, dan layanan penting.
  • PBB dan mitra kemanusiaan terus menyalurkan bantuan, baik di Tepi Barat melalui dukungan psikososial dan pendidikan bagi anak-anak, maupun di Gaza melalui layanan kesehatan.

RRI.CO.ID, Jenewa — PBB menyatakan aktivitas militer Israel di Tepi Barat menyebabkan peningkatan pengungsian dan pembatasan yang lebih besar bagi warga Palestina. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Jumat, 10 Juli 2026.

OCHA melaporkan bahwa operasi militer Israel dan pembatasan pergerakan yang semakin meluas terus berlanjut di Tepi Barat. Selain itu, pembongkaran bangunan, perluasan permukiman, dan kekerasan oleh pemukim juga masih terjadi di wilayah tersebut.

Melansir dari Xinhua, kondisi ini dinilai memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah tersebut. Menurut OCHA, dampak dari berbagai aktivitas tersebut adalah semakin banyak warga Palestina yang mengungsi.

Selain itu, risiko perlindungan meningkat dan akses terhadap perumahan, mata pencaharian, serta layanan penting menjadi semakin terbatas. Sejak awal bulan, sebanyak 67 orang dilaporkan mengungsi akibat pembongkaran bangunan.

Dalam periode yang sama, sekitar dua lusin struktur telah dihancurkan, termasuk dua bangunan yang didanai oleh donor untuk membantu warga. OCHA menjelaskan bahwa otoritas Israel membongkar bangunan-bangunan tersebut dengan alasan tidak memiliki izin pembangunan.

Namun, badan PBB itu menilai bahwa izin pembangunan hampir mustahil diperoleh oleh warga Palestina. Sejauh tahun ini, serangan pemukim dan pembongkaran bangunan karena tidak memiliki izin menyebabkan lebih dari 3.200 warga Palestina mengungsi.

Angka tersebut setara dengan rata-rata 17 orang mengungsi setiap hari, dua kali lipat rata-rata harian selama tiga tahun sebelumnya. Di tengah kondisi tersebut, mitra kemanusiaan tetap menyalurkan bantuan penting.

Pada paruh pertama tahun 2026, lebih dari 5.300 anak dan 1.670 pengasuh di wilayah Yerusalem menerima berbagai bentuk bantuan. Bantuan tersebut meliputi dukungan psikososial, dukungan pengasuhan, bantuan darurat, dan layanan lainnya.

Di seluruh Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, sekitar 60.000 anak mendapat dukungan pendidikan melalui program pembelajaran kejar ketertinggalan dan remedial. Selain itu, rehabilitasi darurat telah diselesaikan di 32 sekolah.

OCHA juga menyatakan bahwa PBB dan para mitranya terus mendukung warga Gaza yang menghadapi pengungsian berkepanjangan. Di Gaza, OCHA mencatat bahwa penyakit menular masih meluas.

Pekan lalu, mitra kesehatan memberikan lebih dari 243.000 konsultasi medis di lebih dari 200 titik layanan. Penyakit pernapasan akut dan penyakit kulit menjadi kondisi yang paling sering dilaporkan, sementara penyakit yang ditularkan melalui air terus meningkat.

Lebih dari 18.000 kasus baru cacar air, infestasi ektoparasit, dan impetigo tercatat pada pekan lalu. Layanan kesehatan di Gaza menghadapi kendala akibat kelangkaan atau tingginya biaya bahan bakar, oli generator, suku cadang, dan pasokan medis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....