Jalur Air Dihancurkan Israel, Desa di Tepi Barat Kehilangan Akses Air Mengalir
- 16 Jun 2026 23:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pasukan pendudukan Israel merusak satu-satunya pipa air sehingga warga kehilangan akses air bersih di tengah perluasan permukiman.
- Warga Palestina juga menghadapi pembatasan akses lahan pertanian serta serangan yang mencakup pembakaran dan penghancuran infrastruktur.
- Dana sekitar 1,89 juta dolar AS dilaporkan akan diberikan kepada kelompok Hilltop Youth, di tengah meningkatnya kekerasan di Tepi Barat sejak 2023.
RRI.CO.ID, Tepi Barat — Pasukan pendudukan Israel menghancurkan satu-satunya jalur pasokan air yang melayani Desa Umm Safa di Tepi Barat yang diduduki. Akibatnya, akses air bersih bagi warga setempat terputus, dilansir dari Anadolu, Selasa, 16 Juni 2026.
Desa tersebut berada di wilayah dekat Ramallah. Desa tersebut mengalami serangan pada hari Senin, 15 Juni 2026 di tengah aktivitas perluasan permukiman Israel di kawasan tersebut.
Menurut sumber lokal, penghancuran dilakukan menggunakan buldoser yang sekaligus meratakan tanah Palestina dan membuka jalan baru untuk permukiman. Akibatnya, Desa Umm Safa kehilangan seluruh akses terhadap air mengalir.
Hal tersebut terjadi karena pipa utama yang menjadi satu-satunya sumber pasokan air telah dihancurkan. Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas perluasan permukiman Israel yang dinilai ilegal menurut hukum internasional.
Warga Palestina di wilayah tersebut juga semakin sulit mengakses lahan pertanian mereka akibat pembatasan dan serangan yang terus meningkat. Serangan terhadap lahan pertanian dilaporkan mencakup pembakaran, penghancuran dengan alat berat, serta pembatasan akses petani.
Pemukim Israel yang beroperasi dari pos-pos ilegal juga disebut kerap melakukan serangan terhadap warga Palestina di sekitar wilayah tersebut. Media Israel melaporkan bahwa pemerintah Israel berencana mengalokasikan 1,89 juta dolar AS (Rp33,4 miliar) untuk kelompok pemukim ekstrem Hilltop Youth.
Kelompok ini berbasis di pos-pos permukiman ilegal di Tepi Barat. Kelompok ini juga kerap dikaitkan dengan serangan terhadap warga Palestina serta gerakan ekstrem “Price Tag”.
Sejak 8 Oktober 2023, kekerasan di Tepi Barat terus meningkat dengan data mencatat sedikitnya 1.169 warga Palestina meninggal. Situasi di wilayah tersebut terus memburuk seiring eskalasi konflik yang berlangsung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....