Jumlah Serangan Pemukim di Tepi Barat Tembus 1.000 Kasus, Kata PBB
- 13 Jun 2026 14:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PBB mencatat lebih dari 1.000 serangan pemukim Israel di Tepi Barat sepanjang 2026, dengan rata-rata enam insiden per hari yang menyebabkan korban jiwa, luka-luka, dan kerusakan properti warga Palestina.
- Krisis kemanusiaan terus memburuk, dengan lebih dari 2.200 warga Palestina mengungsi akibat kekerasan pemukim dan pembatasan akses, sementara ratusan lainnya kehilangan rumah karena pembongkaran oleh otoritas Israel.
- Organisasi kemanusiaan meningkatkan bantuan bagi warga terdampak, termasuk lebih dari 300.000 penerima bantuan pangan dari WFP, meski layanan kesehatan menghadapi kendala.
RRI.CO.ID, Tepi Barat — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa jumlah serangan pemukim Israel di Tepi Barat telah melampaui 1.000 insiden sepanjang tahun ini. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, luka-luka, serta kerusakan pada properti warga Palestina, dilansir dari Xinhua, Sabtu, 13 Juni 2026.
Data tersebut disampaikan oleh Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Kamis, 11 Juni 2026. OCHA menyebut lebih dari 230 komunitas di seluruh Tepi Barat terdampak oleh serangan tersebut.
Menurut lembaga itu, kekerasan pemukim terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir dan berdampak luas terhadap kehidupan warga Palestina. Lembaga tersebut mencatat lebih dari 2.200 warga Palestina terpaksa mengungsi sepanjang tahun ini akibat kekerasan pemukim dan berbagai pembatasan akses.
Selain itu, ratusan warga lainnya kehilangan tempat tinggal setelah rumah mereka dibongkar oleh otoritas Israel. Pada pekan lalu saja, lebih dari 30 warga Palestina mengalami luka-luka akibat serangan pemukim.
Serangan tersebut juga menyebabkan kerusakan besar pada properti, infrastruktur penting, serta berbagai sumber mata pencaharian masyarakat setempat. Menurut OCHA, rata-rata terjadi enam serangan pemukim setiap hari yang mengakibatkan korban atau kerusakan properti.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan catatan tahunan sebelumnya. Di tengah situasi tersebut, berbagai organisasi kemanusiaan terus menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak.
Bantuan diberikan terutama di Area C, Yerusalem Timur, dan wilayah lain yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan dasar. Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan lebih dari 300.000 warga Palestina menerima bantuan pangan dan bantuan tunai selama Mei.
Sementara itu, mitra kesehatan OCHA mengoperasikan 870 titik layanan kesehatan di Tepi Barat, termasuk 230 lokasi klinik keliling. Namun, sejumlah fasilitas kesehatan terpaksa mengurangi jam operasional akibat kekurangan obat-obatan, perlengkapan medis, serta pembatasan akses.
Di Gaza, Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan bahwa satu dari dua petugas ambulans yang ditahan pada Rabu telah dibebaskan. Namun, satu petugas lainnya hingga kini masih belum diketahui keberadaannya.
Di bidang gizi, OCHA menyatakan lebih dari 77.000 anak usia 6 hingga 59 bulan telah diperiksa sepanjang Mei. Dari jumlah tersebut, lebih dari 4 persen teridentifikasi mengalami malnutrisi akut dan dirujuk untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....