WMO: Pemanasan Laut dan Kenaikan Air Laut Ancam Pasifik Barat Daya
- 09 Jul 2026 12:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- WMO mencatat tahun 2025 sebagai tahun terpanas kedua sejak pencatatan dimulai, disertai pemanasan laut, kenaikan muka air laut, dan gelombang panas laut yang semakin sering.
- Kondisi ini memicu pemutihan karang, kematian ikan, gangguan sektor perikanan dan akuakultur, serta ancaman terhadap mata pencaharian dan komunitas pesisir.
- Gletser tropis terakhir di Indonesia telah menyusut hingga sekitar 2 persen dari luasnya pada 1988 dan diperkirakan akan hilang pada akhir 2026 atau awal 2027.
RRI.CO.ID, Jenewa — Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa pemanasan laut, kenaikan muka air laut, dan gelombang panas laut semakin sering terjadi. Hal tersebut mengancam mata pencaharian, ekosistem, serta komunitas pesisir di kawasan Pasifik Barat Daya.
WMO menyatakan bahwa tahun 2025 menjadi tahun terpanas kedua di kawasan tersebut sejak pencatatan dimulai. Hal tersebut disampaikan dalam laporan State of the Climate in the South-West Pacific, dilansir dari Anadolu, Kamis, 9 Juli 2026.
Cuaca ekstrem sepanjang tahun tersebut menyebabkan kerugian ekonomi yang luas serta hilangnya banyak nyawa. Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menegaskan bahwa laut memiliki peran sentral bagi negara-negara dan wilayah di Pasifik Barat Daya.
Menurutnya, laut menjadi sumber mata pencaharian, penopang perekonomian, sekaligus elemen penting dalam ketahanan masyarakat pesisir. Kawasan Pasifik Barat Daya mengalami pemanasan laut, kenaikan muka air laut, gelombang panas laut, dan pengasaman laut selama 2025.
Selain itu, menurut laporan tersebut, wilayah Kawasan Pasifik Barat Daya juga menghadapi siklon tropis dan penyusutan gletser tropis. WMO menyebut gelombang panas laut melanda hampir seluruh wilayah Pasifik Barat Daya pada 2025.
Hal tersebut menjadikannya tahun dengan cakupan gelombang panas laut terluas yang pernah tercatat tanpa adanya peristiwa El Nino. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan karena El Nino yang berpotensi kuat sedang berkembang.
Fenomena El Nino tersebut juga dapat memicu gelombang panas laut yang lebih luas pada 2026. Rekor kandungan panas laut tercatat di selatan Australia, Laut Tasman bagian selatan, dan sebagian wilayah Pasifik Utara tropis.
Kondisi ini berkontribusi terhadap pemutihan karang secara luas, kematian ikan, serta gangguan pada sektor perikanan dan akuakultur. WMO juga memperingatkan gletser tropis terakhir yang tersisa di Indonesia telah menyusut hingga 2 persen dari luasnya pada 1988.
Gletser tersebut diperkirakan akan hilang pada akhir 2026 atau awal 2027. Selain itu, muka air laut di kawasan Pasifik Barat Daya naik rata-rata 3,7 milimeter per tahun antara 1999 dan 2025.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....