WMO: Peluang El Nino Kembali Capai 90 Persen sebelum November

  • 03 Jun 2026 14:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • WMO memperkirakan El Nino akan kembali tahun ini, dengan peluang terbentuk mencapai 80 persen sebelum September dan 90 persen sebelum November 2026.
  • Fenomena El Nino berpotensi memperparah cuaca ekstrem global, termasuk peningkatan risiko gelombang panas, hujan lebat, kekeringan, serta gangguan terhadap produksi pangan di berbagai wilayah dunia.
  • PBB menyerukan penguatan sistem peringatan dini dan aksi iklim, termasuk percepatan transisi ke energi terbarukan, untuk mengurangi dampak El Nino dan pemanasan global di masa mendatang.

RRI.CO.ID, Jenewa — PBB memperingatkan dunia untuk bersiap menghadapi kembalinya fenomena El Nino yang berpotensi memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan peluang terbentuknya El Nino mencapai 80 persen sebelum September.

Melansir dari The Guardian, Rabu, 3 Juni 2026, peluang tersebut meningkat menjadi 90 persen sebelum November 2026. Sebagian besar model cuaca memprediksi El Nino yang akan datang memiliki kekuatan setidaknya moderat.

Sementara itu, beberapa model lainnya menunjukkan kemungkinan fenomena yang lebih kuat. Meski sejumlah ilmuwan sebelumnya memperingatkan potensi El Nino terkuat abad ini, WMO menegaskan masih terdapat ketidakpastian dalam proyeksi tersebut.

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, mengatakan hasil berbagai model cuaca masih menunjukkan perbedaan yang cukup besar. Menurutnya, sebagian model tidak menunjukkan tanda-tanda El Nino yang kuat, sementara model lainnya justru mengarah pada kemungkinan tersebut.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyebut El Nino sebagai peringatan iklim yang harus ditanggapi secara serius. Ia menilai fenomena tersebut akan memperburuk dampak pemanasan global yang sudah berlangsung dan memperluas jangkauan cuaca ekstrem ke berbagai negara.

El Nino terakhir yang terjadi pada periode 2023–2024 termasuk salah satu dari lima peristiwa terkuat yang pernah tercatat. Fenomena tersebut turut berkontribusi terhadap rekor suhu global pada 2024 yang menjadi salah satu tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern.

WMO memperkirakan suhu di hampir seluruh wilayah dunia akan berada di atas rata-rata selama tiga bulan ke depan. Organisasi itu juga memperingatkan meningkatnya risiko hujan ekstrem dan kekeringan di berbagai kawasan.

El Nino dikaitkan dengan curah hujan lebih tinggi di sebagian Amerika Selatan, selatan Amerika Serikat, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah. Sebaliknya, kondisi yang lebih kering biasanya terjadi di Amerika Tengah, Karibia, Australia, Indonesia, serta beberapa bagian Asia Selatan.

Suhu permukaan laut yang lebih hangat selama El Nino dapat meningkatkan aktivitas badai tropis di Pasifik tengah dan timur. Namun kondisi yang sama justru cenderung menghambat pembentukan badai di wilayah Samudra Atlantik.

WMO dan UK Met Office bahkan memperkirakan dunia hampir pasti mencatat tahun terpanas baru sebelum akhir dekade ini. Para ahli juga mengingatkan bahwa fenomena ini dapat memperburuk tekanan terhadap pasokan pangan global.

Oleh karena itu, PBB menekankan pentingnya memperkuat sistem peringatan dini dan mempercepat transisi menuju energi terbarukan. Organisasi tersebut juga menyerukan peningkatan aksi iklim global untuk mengurangi dampak yang dapat ditimbulkan El Nino di masa mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....