WMO Peringatkan El Nino, Ancaman Kekeringan hingga Banjir Mengintai Dunia
- 11 Jun 2026 13:47 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- El Nino kuat diperkirakan segera terjadi dan berpotensi menjadi yang terkuat dalam lebih dari satu abad, menurut WMO, dengan dampak global yang dapat berlangsung hingga musim dingin.
- Fenomena ini berisiko memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia, termasuk kekeringan di Amerika Tengah, Asia, Afrika, dan Australia, serta hujan ekstrem dan banjir di sebagian Amerika Selatan.
- Dampaknya mencakup krisis pangan, gangguan ekonomi, kebakaran hutan, hingga perubahan pola badai tropis, dengan para ilmuwan menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan pemantauan dini.
RRI.CO.ID, Jenewa — Fenomena El Nino kuat diperkirakan akan segera terjadi dan berpotensi menjadi yang terkuat dalam lebih dari satu abad terakhir. Para ahli menyebut fenomena yang terbentuk di Samudra Pasifik ini dapat mengubah pola cuaca global dalam waktu dekat.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan kondisi El Nino akan segera muncul dan dapat berlangsung hingga musim dingin. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut fenomena ini sebagai peringatan iklim yang serius dan dapat memperburuk kondisi pemanasan global.
El Nino terjadi ketika angin pasat di Samudra Pasifik melemah sehingga air hangat menumpuk di wilayah tersebut. Meski hanya terjadi di satu kawasan, dampaknya dapat dirasakan di seluruh dunia melalui perubahan atmosfer global.
Dampaknya berbeda di setiap wilayah, dengan sebagian negara mengalami kekeringan parah sementara wilayah lain menghadapi banjir besar. Kawasan seperti Amerika Tengah, Asia, Afrika, dan Australia berisiko mengalami kondisi lebih kering, dilansir dari Deutsche Welle, Kamis, 11 Juni 2026.
Sementara itu, sebagian wilayah Amerika Selatan dapat terdampak hujan ekstrem dan banjir. Di Honduras, sejumlah wilayah bahkan diperkirakan mengalami kekeringan parah hingga ibu kota Tegucigalpa menetapkan status darurat air.
Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu pasokan air, pertanian, serta energi di berbagai negara. El Nino juga berpotensi menyebabkan kerugian ekonomi besar akibat gagal panen dan krisis pangan global.
Pada peristiwa sebelumnya, jutaan orang di berbagai negara membutuhkan bantuan pangan akibat dampak fenomena ini. Selain itu, risiko kebakaran hutan diperkirakan meningkat di sejumlah wilayah.
Risiko tersebut diperkirakan meningkat di Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan hutan Amazon akibat kombinasi panas dan kekeringan. Fenomena ini juga memengaruhi aktivitas badai tropis, terutama di Atlantik yang diperkirakan mengalami musim badai lebih lemah dari biasanya.
Namun, badai yang terbentuk tetap dapat menjadi sangat berbahaya dan menyebabkan kerusakan besar. Sebaliknya, wilayah Pasifik justru berpotensi mengalami peningkatan aktivitas badai.
Selain itu, suhu laut yang meningkat dapat berdampak pada ekosistem laut seperti terumbu karang yang mengalami pemutihan. Para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim tidak secara langsung memperkuat El Nino, namun dapat memperburuk dampaknya.
Atmosfer yang lebih hangat dapat meningkatkan risiko hujan ekstrem sekaligus memperparah kekeringan. Pemantauan suhu laut dan atmosfer dinilai dapat membantu negara-negara mengurangi dampak terburuk melalui langkah mitigasi yang tepat waktu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....