Gelombang Panas di Spanyol Sebabkan 1.028 Orang Meninggal

  • 02 Jul 2026 12:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gelombang panas di Spanyol menewaskan sedikitnya 1.028 orang sepanjang Juni 2026, dengan Januari–Juni 2026 tercatat sebagai periode terpanas dalam sejarah negara tersebut.
  • Gelombang panas meluas ke berbagai negara Eropa, memicu suhu di atas 40 derajat Celsius, menyebabkan lebih dari 1.300 kematian tambahan, serta memecahkan rekor suhu di sejumlah negara.
  • Ilmuwan menyebut perubahan iklim memperparah gelombang panas, yang dipicu oleh massa udara panas dari Gurun Sahara dan fenomena heat dome, sehingga suhu di Eropa Barat dan Tengah meningkat selama beberapa hari berturut-turut.

RRI.CO.ID, Madrid — Gelombang panas yang melanda Spanyol sepanjang Juni 2026 menyebabkan sedikitnya 1.028 orang meninggal. Periode Januari hingga Juni tahun ini juga tercatat sebagai yang terpanas dalam sejarah pencatatan di negara tersebut.

Para ilmuwan menyatakan perubahan iklim menjadi faktor utama yang memperparah suhu ekstrem di Eropa. Berdasarkan data Lembaga Kesehatan Carlos III Spanyol, jumlah korban jiwa akibat panas lebih dari dua kali lipat dibandingkan Juni 2025.

Angka tersebut juga menjadi jumlah kematian akibat panas tertinggi untuk bulan Juni sejak 2015. Puncak gelombang panas pada 23 Juni, sekitar 73 persen dari total populasi Spanyol terpapar risiko kesehatan akibat suhu ekstrem.

Kondisi tersebut menunjukkan hampir tiga perempat penduduk negara itu berada dalam ancaman dampak serius gelombang panas. Badan Meteorologi Spanyol (Aemet) menyatakan Juni 2026 menjadi Juni terpanas kedua yang pernah tercatat di negara tersebut.

Melansir dari Deutsche Welle, Kamis, 2 Juli 2026, selama Juni, suhu rata-rata mencapai 3,2 derajat Celsius di atas kondisi normal. Aemet juga menyebut paruh pertama tahun 2026 sebagai periode terpanas sejak pencatatan dimulai.

Gelombang panas ini tidak hanya melanda Spanyol, tetapi juga sebagian besar wilayah Eropa. Suhu di atas 40 derajat Celsius tercatat di Prancis, Jerman, dan sejumlah negara lainnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 kematian tambahan akibat gelombang panas di seluruh Eropa. Jumlah korban tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah.

Panas ekstrem tersebut juga memecahkan rekor suhu tertinggi di beberapa negara, termasuk Jerman, Polandia, Republik Ceko, Slovakia, dan Hungaria. Sementara itu, Prancis mencatat suhu malam hari tertinggi sepanjang sejarah pengamatan.

Menurut para ahli meteorologi, gelombang panas dipicu oleh massa udara panas yang bergerak dari Gurun Sahara menuju Eropa. Massa udara tersebut diperkuat oleh sistem tekanan tinggi yang dikenal sebagai antisiklon Afrika.

Sistem tekanan tinggi itu kemudian membentuk fenomena heat dome atau kubah panas. Fenomena tersebut memerangkap udara panas di atas Eropa Barat dan Eropa Tengah sehingga suhu terus meningkat selama beberapa hari berturut-turut.

Para ilmuwan menilai perubahan iklim akibat aktivitas manusia telah memperburuk intensitas gelombang panas tersebut. Mereka memperkirakan gelombang panas tahun ini menjadi hingga empat derajat Celsius lebih panas dibandingkan jika tidak dipengaruhi oleh perubahan iklim.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....