WHO: Lebih dari 1.300 Orang Meninggal akibat Gelombang Panas di Eropa

  • 30 Jun 2026 12:52 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gelombang panas ekstrem di Eropa telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian berlebih, dengan suhu mencapai 44 derajat Celsius di sejumlah wilayah dan mengganggu berbagai aktivitas.
  • WHO menyebut Eropa sebagai benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia, sementara para ilmuwan menilai perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat gelombang panas semakin sering terjadi.
  • Negara-negara Eropa mulai memperkuat langkah mitigasi, sementara UNEP mendorong strategi pendinginan berkelanjutan, penghijauan kota, sistem peringatan dini, dan perlindungan bagi kelompok rentan.

RRI.CO.ID, Jenewa — Gelombang panas ekstrem terus melanda sejumlah negara di Eropa pada musim panas tahun ini. Suhu di beberapa wilayah mencapai 40 derajat Celsius, termasuk di Jerman, Republik Ceko, dan Polandia.

Suhu tinggi tersebut mengganggu layanan transportasi di berbagai daerah. Prancis menjadi salah satu negara yang terdampak paling parah dengan sekitar 1.000 kematian berlebih akibat gelombang panas.

Melansir dari Al Jazeera, Selasa, 30 Juni 2026, di salah satu kota, suhu bahkan mencapai 44 derajat Celsius. Secara keseluruhan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1.300 kematian berlebih di Eropa sejak 21 Juni.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut Eropa sebagai benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia. Menurutnyam pemanasan di Eropa melaju dua kali rata-rata global.

Ia juga memperingatkan bahwa sebagian besar infrastruktur di kawasan tersebut tidak dirancang untuk menghadapi suhu yang semakin ekstrem. Menurut WHO, perubahan iklim membuat gelombang panas yang sebelumnya tergolong langka kini hampir terjadi setiap tahun.

Spanyol melaporkan dua kematian akibat heatstroke pada lansia, sementara Jerman mencatat sedikitnya tujuh kematian yang berkaitan dengan gelombang panas. Sejumlah korban lainnya dilaporkan meninggal akibat tenggelam saat berusaha mencari kesegaran di perairan.

Para ahli menjelaskan bahwa panas ekstrem dapat menyebabkan dehidrasi, heatstroke, serangan jantung, stroke, hingga gagal pernapasan. Kelompok yang paling rentan meliputi lansia, penyandang disabilitas, serta masyarakat yang tidak memiliki akses memadai terhadap pendinginan dan air minum.

Ahli meteorologi menyebut gelombang panas kali ini dipicu oleh fenomena heat dome dan omega block. Fenomena tersebut membuat udara panas terperangkap di wilayah yang sama selama berhari-hari.

Para ilmuwan juga menegaskan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat gelombang panas menjadi sekitar 30 kali lebih mungkin terjadi. Menghadapi kondisi tersebut, sejumlah negara Eropa mulai memperkuat langkah mitigasi.

Paris dan Denmark meningkatkan pemantauan terhadap warga lanjut usia, sementara Barcelona membuka lebih dari 500 tempat perlindungan iklim. Serikat pekerja Eropa juga mendesak Uni Eropa menetapkan batas maksimum suhu kerja untuk melindungi pekerja dari risiko panas ekstrem.

Program Lingkungan PBB (UNEP) mendorong negara-negara menerapkan strategi pendinginan yang berkelanjutan. UNEP juga mengimbau pemerintah memperluas penghijauan di kawasan perkotaan.

Selain itu, negara-negara diminta membangun sistem peringatan dini dan memperkuat layanan kesehatan. UNEP menilai perlindungan bagi kelompok rentan perlu ditingkatkan untuk mengurangi dampak gelombang panas di masa mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....