Gelombang Panas di Prancis Tewaskan Ratusan Ribu Unggas

  • 30 Jun 2026 15:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gelombang panas ekstrem di Prancis menyebabkan ratusan ribu unggas mati dan membuat layanan pengangkutan bangkai kewalahan.
  • Pemerintah mempertimbangkan penguburan bangkai unggas di peternakan setelah melalui pemeriksaan teknis dan lingkungan.
  • Cuaca panas juga menurunkan produksi susu hingga 20 persen karena sapi mengalami stres akibat suhu tinggi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga menghantam sektor peternakan. Ratusan ribu unggas dilaporkan mati akibat suhu panas, sementara produksi susu sapi ikut menurun karena ternak mengalami stres panas.

Melansir dari Reuters, organisasi peternakan Prancis menyebut lonjakan kematian unggas terjadi di Brittany dan Pays de la Loire. Banyaknya bangkai ternak membuat layanan pengangkutan kewalahan sehingga pemerintah mulai mempertimbangkan opsi penguburan di area peternakan.

Peternak ayam di Pays de la Loire, Clement Blanchard, mengaku kehilangan sekitar 700 ekor ayam hanya dalam beberapa hari. Padahal, dalam kondisi normal jumlah kematian di peternakannya hanya satu hingga dua ekor per hari.

Menurut Blanchard, cuaca panas membuat ayam kesulitan bertahan sehingga tingkat kematian meningkat tajam. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan hewan ternak juga merasakan dampak cuaca ekstrem.

Ketua organisasi industri unggas Prancis ANVOL, Yann Nedelec, memperkirakan jumlah unggas yang mati telah mencapai ratusan ribu ekor. Namun, angka pasti masih dihitung karena laporan dari berbagai peternakan terus berdatangan.

Brittany dan Pays de la Loire merupakan wilayah yang menampung hampir 60 persen populasi unggas di Prancis. Negara itu sendiri tercatat sebagai produsen unggas terbesar ketiga di Uni Eropa setelah Polandia dan Spanyol.

Biasanya bangkai unggas dikirim ke fasilitas pengolahan khusus. Namun, volume kematian yang melonjak membuat sistem tersebut tidak mampu menangani seluruh bangkai dalam waktu singkat.

Gelombang panas juga memukul peternak sapi perah. Suhu panas tinggi membuat sapi mengurangi konsumsi pakan, membutuhkan lebih banyak air, dan menghasilkan susu lebih sedikit.

Peternak sapi perah di wilayah Angers mengatakan produksi susunya turun sekitar 15-20 persen selama gelombang panas. Menurutnya, sapi-sapi di kandang terus berkumpul di dekat kipas angin untuk mencari udara sejuk karena kesulitan menghadapi suhu yang ekstrem.

Gelombang panas yang melanda Eropa Barat dalam beberapa pekan terakhir telah memicu berbagai gangguan. Mulai dari meningkatnya korban jiwa, penutupan sekolah, hingga terganggunya aktivitas pertanian dan peternakan di sejumlah negara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....