Viral! Suhu Ekstrem Landa Eropa, Ribuan Sekolah Ditutup dan Permintaan AC Melonjak

  • 29 Jun 2026 11:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gelombang panas ekstrem memaksa sekitar 13.500 sekolah di Prancis dan lebih dari 1.000 sekolah di Inggris ditutup atau menerapkan jadwal khusus.
  • Suhu yang terus meningkat memicu lonjakan permintaan AC, bahkan warga dilaporkan berebut membeli pendingin ruangan di sejumlah toko.
  • Pemerintah Prancis mengaktifkan status siaga layanan kesehatan dan menyiapkan berbagai langkah darurat untuk mengurangi risiko akibat cuaca ekstrem.

RRI.CO.ID, Jakarta - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa memaksa ribuan sekolah ditutup, memicu lonjakan permintaan pendingin ruangan (AC). Hal ini mendorong pemerintah mengambil langkah darurat, karena sudah semakin viralnya perihal kondisi ini di media sosial.

Suhu yang terus meningkat mengganggu aktivitas harian warga, sementara sejumlah wilayah muncul kepanikan. Kondisi ini membuat warga setempat melakukan aksi borong AC di toko-toko.

Di Prancis misalnya, pemerintah mengaktifkan tingkat tertinggi mobilisasi layanan kesehatan untuk menghadapi dampak gelombang panas. Langkah itu memungkinkan penundaan operasi yang tidak mendesak agar sumber daya medis dapat difokuskan kepada warga yang terdampak suhu ekstrem.

Pemerintah kota Paris juga menyiapkan larangan konsumsi alkohol di ruang publik untuk mengurangi risiko kesehatan akibat cuaca panas. Kebijakan tersebut diambil di tengah suhu yang terus bertahan tinggi dan membebani layanan kesehatan di ibu kota Prancis.

Sektor pendidikan menjadi salah satu yang paling terdampak. Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray mengatakan sekitar 13.500 sekolah ditutup atau menerapkan jadwal khusus.

Kondisi serupa terjadi di Inggris. Lebih dari 1.000 sekolah ditutup sepenuhnya atau sebagian setelah suhu di sejumlah ruang kelas dilaporkan melampaui 40 derajat Celsius. Area bermain tanpa pepohonan juga dinilai berisiko bagi kesehatan anak-anak.

Gelombang panas turut mengubah pola konsumsi masyarakat Eropa. Permintaan terhadap pendingin ruangan meningkat tajam meski penggunaan AC selama ini relatif belum umum di banyak negara Eropa.

Produsen elektronik asal Asia seperti Samsung Electronics, Midea, dan Mitsubishi Electric dilaporkan mencatat pertumbuhan penjualan yang signifikan. Permintaan terbesar berasal dari Prancis, Spanyol, dan Italia yang menjadi beberapa wilayah dengan suhu paling tinggi selama gelombang panas berlangsung.

Di tengah lonjakan permintaan itu, cuaca ekstrem juga memicu kepanikan di sejumlah daerah. Sebuah video yang viral dari Chambéry memperlihatkan puluhan pembeli berlarian masuk ke sebuah toko untuk membeli AC.

Dalam video yang beredar di internet terlihat, sesaat setelah toko dibuka puluhan pembeli langsung berebut masuk. Situasi di dalam toko dilaporkan sempat kacau karena banyak warga berebut barang yang dianggap paling dibutuhkan untuk menghadapi panas ekstrem.

Menurut Reuters Climate Monitor, cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh pola atmosfer yang dikenal sebagai Omega block. Fenomena ini memerangkap udara panas di suatu kawasan sehingga suhu dapat meningkat hingga 18 derajat Celsius di atas rata-rata normal.

Para ilmuwan menilai perubahan iklim turut memperkuat intensitas gelombang panas yang semakin sering terjadi. Kondisi tersebut diperkirakan akan terus meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas pendingin sekaligus menjadi tantangan bagi berbagai sektor, termasuk pendidikan.

"Peritel kesulitan memenuhi lonjakan permintaan kipas angin dan pendingin udara portabel di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa." seperti dikutip dari Reuters berjudul "As Europe roasts in a heat wave, Asia's air-con makers grab some cool cash" diterbitkan pada Kamis, 25 Juni 2026 yang ditulis oleh Hyunjoo Jin dan Beijing newsroom.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....