Gelombang Panas Eropa Pecahkan Rekor Suhu, Sejumlah Acara Dibatalkan
- 29 Jun 2026 11:04 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gelombang panas ekstrem memecahkan rekor suhu di sejumlah negara Eropa dan menyebabkan korban jiwa terus bertambah.
- Berbagai acara publik dibatalkan, layanan transportasi terganggu, serta rumah sakit di Prancis menerapkan status darurat akibat cuaca ekstrem.
- Ilmuwan menilai perubahan iklim menjadi penyebab utama meningkatnya intensitas gelombang panas dan mempercepat pencairan gletser di Swiss.
RRI.CO.ID, Jakarta - Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara Eropa terus memecahkan rekor suhu pada akhir Juni 2026. Kondisi tersebut menyebabkan korban jiwa bertambah di Spanyol dan Prancis, berbagai acara publik pun dibatalkan demi mengurangi risiko kesehatan.
Jerman mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah untuk bulan Juni, yakni mencapai 41,3 derajat Celsius di Kota Saarbrücken dekat perbatasan Prancis. Rekor suhu juga tercatat di Belgia dan Belanda, sementara Inggris membukukan suhu sementara tertinggi bulan Juni sebesar 37,1 derajat Celsius.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa gelombang panas ini akan membawa dampak besar terhadap masyarakat. Mulai dari masalah kesehatan,, ekosistem, sektor pertanian, hingga produktivitas tenaga kerja.
Juru bicara WMO, Clare Nullis, mengatakan masyarakat perlu mulai beradaptasi karena fenomena tersebut diperkirakan akan semakin sering terjadi. “Sayangnya, kita harus membiasakan diri dengan ini,” katanya.
Berdasarkan perhitungan AFP, sedikitnya 150 juta penduduk Eropa menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius. Beberapa negara seperti Republik Ceko, Austria, hingga kawasan Balkan juga diperkirakan berpotensi mencatat rekor suhu baru dalam beberapa hari ke depan.
Melansir dari BBC, Cuaca ekstrem turut mengganggu aktivitas masyarakat di berbagai negara. Layanan kereta Eurostar dari Cologne menuju Paris sempat mengalami gangguan di dekat Brussel. Sementara sejumlah konser, festival musik, hingga ajang olahraga dibatalkan karena alasan keselamatan.
Di Prancis, penyelenggara Paris Pride memutuskan menunda pawai hingga September. Festival musik Solidays serta Hamburg Half Marathon di Jerman juga termasuk dalam daftar acara yang dibatalkan akibat cuaca panas ekstrem.
Pemerintah Prancis mengaktifkan rencana darurat bagi seluruh rumah sakit di wilayah Paris karena meningkatnya tekanan terhadap layanan kesehatan. Menteri Kesehatan Prancis juga memperingatkan bahwa kondisi cuaca tersebut diperkirakan akan menyebabkan tambahan korban jiwa.
Korban meninggal akibat suhu ekstrem terus bertambah. Di Prancis, sedikitnya 55 orang dilaporkan meninggal karena tenggelam sejak gelombang panas dimulai, sementara seorang balita berusia 18 bulan meninggal setelah ditemukan di dalam mobil dalam kondisi hipertermia.
Di Spanyol, sistem pemantauan MoMo mencatat sedikitnya 327 kematian yang diduga berkaitan dengan suhu panas antara Minggu hingga Kamis. Sebagian besar korban dilaporkan meninggal dalam dua hari terakhir.
Dampak gelombang panas juga dirasakan di kawasan pegunungan Swiss. Tim peneliti gletser memperingatkan cadangan salju musim dingin diperkirakan akan habis lebih cepat dari biasanya
Akibat hal tersebut proses pencairan gletser diperkirakan dimulai pada awal pekan depan. Fenomena ini jauh lebih cepat dibandingkan pola normal yang biasanya terjadi pada Agustus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....