AS Umumkan Kerangka Kesepakatan Perdamaian Israel-Lebanon

  • 27 Jun 2026 15:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Amerika Serikat mengumumkan kerangka kesepakatan awal antara Israel dan Lebanon sebagai hasil perundingan empat hari di Washington, yang disebut sebagai langkah awal menuju proses perdamaian meski rincian kesepakatan belum dipublikasikan.
  • Perundingan berlangsung di tengah konflik yang masih berlanjut, dengan Israel tetap menempatkan pasukannya di Lebanon selatan, sementara Hizbullah menuntut penarikan penuh pasukan Israel sebagai syarat tercapainya perdamaian.
  • Sejumlah pengamat meragukan efektivitas kerangka kesepakatan tersebut karena Hizbullah tidak dilibatkan dalam perundingan, sehingga pelaksanaan kesepakatan dan upaya mewujudkan perdamaian berkelanjutan dinilai menghadapi tantangan besar.

RRI.CO.ID, Washington — Amerika Serikat mengumumkan kerangka kesepakatan antara Israel dan Lebanon sebagai langkah awal menuju proses perdamaian di kawasan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan pengumuman tersebut pada Jumat, 26 Juni 2026.

Pengumuman tersebut disampaikan setelah empat hari perundingan yang dimediasi Washington. Rubio menyebut kesepakatan itu sebagai tahap awal menuju negosiasi yang lebih luas, dilansir dari Al Jazeera.

Meski demikian, rincian isi kerangka kesepakatan tersebut hingga kini belum dipublikasikan. Perundingan berlangsung di Washington, DC, dengan menghadirkan perwakilan Israel dan Lebanon.

Namun, kelompok Hizbullah tidak dilibatkan dalam proses pembicaraan tersebut. Upaya diplomasi ini berlangsung di tengah konflik yang masih berlanjut di Lebanon.

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran menandatangani MoU yang menyerukan penghentian operasi militer di seluruh front, termasuk Lebanon. Meski demikian, Israel masih menguasai sebagian wilayah Lebanon dan serangan militer di negara itu belum sepenuhnya berhenti.

Walaupun kedua pihak telah menyepakati gencatan senjata pekan lalu, pasukan Israel tetap ditempatkan di wilayah Lebanon selatan. Hizbullah menegaskan perdamaian hanya dapat terwujud jika Israel menarik seluruh pasukannya tanpa syarat.

Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak tuntutan tersebut. Ia menyatakan pasukan Israel akan tetap berada di zona keamanan Lebanon selatan hingga Hizbullah dilucuti.

Pertemuan pekan ini merupakan putaran kelima perundingan yang dimediasi Amerika Serikat setelah pembicaraan serupa pada April dan Mei. Duta Besar Lebanon untuk AS, Nada Hamadeh, menyebut negosiasi berlangsung panjang dan sulit.

Namun, tetap optimistis kerangka kesepakatan tersebut dapat membuka jalan menuju perdamaian. Meski demikian, sejumlah pengamat menilai prospek keberhasilan kerangka kesepakatan tersebut masih belum pasti.

Mereka menilai tidak dilibatkannya Hizbullah dalam perundingan dapat menjadi hambatan besar bagi pelaksanaan kesepakatan. Menurut mereka, kondisi tersebut juga berpotensi menghambat tercapainya perdamaian yang berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....