Hizbullah Tuntut Penarikan Penuh Israel dari Lebanon

  • 24 Jun 2026 16:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hizbullah menuntut penarikan penuh Israel dari Lebanon selatan, dengan Naim Qassem menegaskan semua pasukan Israel harus mundur sesuai jadwal gencatan senjata yang disepakati.
  • Lebanon, Israel, AS, dan pihak internasional masih terlibat dalam proses diplomatik, termasuk pembicaraan di Washington serta kesepakatan “de-confliction cell” antara Teheran dan Washington untuk meredam eskalasi.
  • Situasi di lapangan masih tegang meski relatif mereda, dengan Israel tetap melanjutkan operasi militer, sementara UNIFIL melaporkan tidak ada aktivitas militer besar sejak 21 Juni dan korban jiwa di Lebanon telah melampaui 4.100 orang.

RRI.CO.ID, Beirut — Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari Lebanon selatan sesuai jadwal yang telah disepakati. Dalam pidato televisi, ia menegaskan, Israel harus meninggalkan seluruh wilayah Lebanon tanpa mempertahankan satu bagian pun.

Melansir dari CNA, Rabu, 24 Juni 2026, Qassem menyatakan bahwa saat ini telah berlaku gencatan senjata. Namun, ia menilai penarikan pasukan Israel harus dilakukan berdasarkan kesepakatan waktu yang jelas.

Ia juga mengatakan, tentara Lebanon seharusnya ditempatkan secara eksklusif di selatan Sungai Litani, 30 kilometer dari perbatasan Israel. Di sisi lain, Presiden Lebanon Joseph Aoun menolak keberadaan pasukan Israel di wilayah selatan Lebanon.

Ia juga menolak campur tangan asing dalam urusan dalam negeri negaranya. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah berlangsungnya putaran kelima pembicaraan Israel-Lebanon di Washington, yang juga menyinggung isu kedaulatan Lebanon.

Mediator Pakistan dan Qatar melaporkan bahwa Teheran dan Washington telah menyepakati pembentukan “de-confliction cell” untuk meredam eskalasi konflik di Lebanon. Kesepakatan tersebut dicapai setelah pertemuan di Swiss yang membahas upaya penghentian perang yang lebih luas di Timur Tengah.

Israel, di sisi lain, menyatakan tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon. Pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) melaporkan tidak ada aktivitas militer signifikan sejak Minggu, 21 Juni 2026.

Di tengah situasi tersebut, Israel dan Lebanon masih melanjutkan proses negosiasi di Washington. Namun, konflik yang terus berlangsung sejak awal perang telah menewaskan lebih dari 4.100 orang di Lebanon, menurut data resmi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....