Oman Tegaskan Dukungan Jalur Aman dan Bebas Biaya di Selat Hormuz

  • 23 Jun 2026 13:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Oman menegaskan dukungan terhadap jalur pelayaran “bebas biaya” di Selat Hormuz dan menekankan pentingnya keamanan serta stabilitas perdagangan regional setelah pembicaraan dengan Iran.
  • Pertemuan Oman–Iran membahas nota kesepahaman AS–Iran, sementara mediator Qatar dan Pakistan melaporkan kemajuan serta membentuk “de-confliction cell” untuk memastikan penghentian operasi militer di Lebanon.
  • Kesepahaman membuka masa negosiasi 60 hari yang mencakup program nuklir Iran, stok uranium, pencabutan blokade, serta jaminan keamanan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.

RRI.CO.ID, Muscat — Oman menegaskan kembali komitmennya terhadap jalur aman dan “bebas biaya” di Selat Hormuz. Hal tersebut disampaikan setelah melakukan pembicaraan dengan pejabat senior Iran di Muscat, dilansir dari Anadolu, Selasa, 23 Juni 2026.

Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyatakan bahwa komitmen tersebut sejalan dengan hukum internasional. Ia juga menekankan pentingnya menjaga keamanan pelayaran di kawasan strategis tersebut.

Pembahasan tersebut melibatkan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Pertemuan tersebut fokus pada nota kesepahaman terbaru antara Iran dan Amerika Serikat, khususnya terkait ketentuan di Selat Hormuz.

Oman menekankan bahwa jalur tersebut memiliki peran penting dalam stabilitas perdagangan dan keamanan regional. Sementara itu, mediator dari Qatar dan Pakistan sebelumnya mengeluarkan pernyataan bersama usai perundingan AS–Iran di Swiss.

Dalam pernyataannya, kedua negara mediator tersebut menyebut adanya kemajuan dalam proses negosiasi. Kedua mediator juga mengumumkan pembentukan “de-confliction cell” yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Lebanon.

Mekanisme tersebut bertujuan untuk memastikan kepatuhan terhadap penghentian operasi militer di Lebanon. Kesepakatan tersebut berada dalam kerangka Nota Kesepahaman Islamabad yang telah ditandatangani secara tidak langsung oleh AS dan Iran.

Kesepahaman itu membuka jangka waktu negosiasi selama 60 hari untuk menyelesaikan berbagai isu. Isu tersebut mencakup program nuklir Iran, stok uranium yang diperkaya, serta persoalan lain yang belum terselesaikan.

Dokumen kesepakatan tersebut juga menyerukan penghentian segera operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon, serta pencabutan blokade. Selain itu, dokumen tersebut menekankan jaminan keamanan dan kelancaran jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....