Iran Bebaskan Biaya Transit Selat Hormuz Selama Masa Negosiasi 60 Hari

  • 20 Jun 2026 14:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kebijakan ini merupakan bagian dari nota kesepahaman dengan Amerika Serikat dan mencakup pembebasan biaya keamanan, keselamatan pelayaran, perlindungan lingkungan, serta asuransi bagi kapal yang melintas.
  • Sebanyak 25 kapal komersial melintasi Selat Hormuz pada 18 Juni 2026, menjadi jumlah tertinggi sejak pertengahan April setelah jalur pelayaran strategis tersebut dibuka kembali.
  • Meski aktivitas pelayaran mulai pulih, IMO melaporkan lebih dari 500 kapal komersial dan sekitar 11.000 pelaut masih tertahan di kawasan Teluk, sementara keberhasilan normalisasi perdagangan bergantung pada kelanjutan diplomasi AS-Iran.

RRI.CO.ID, Teheran — Iran mengumumkan pembebasan biaya penggunaan Selat Hormuz selama masa negosiasi 60 hari. Negosiasi tersebut berlangsung dalam kerangka nota kesepahaman dengan Amerika Serikat, dilansir dari South China Morning Post, Sabtu, 20 Juni 2026.

Kebijakan tersebut diumumkan Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) sebagai upaya mendukung pemulihan aktivitas pelayaran dan perdagangan di kawasan. Meski demikian, seluruh kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz tetap diwajibkan mengajukan permohonan transit setidaknya 48 jam sebelum tiba.

Iran juga membebaskan biaya layanan keamanan, keselamatan pelayaran, perlindungan lingkungan, serta asuransi terkait selama masa perjanjian berlaku. PGSA menegaskan bahwa kapal tetap harus mengoordinasikan rute dan jadwal pelayaran sebelum melintas.

Ketentuan tersebut diberlakukan karena masih terdapat sejumlah wilayah di sekitar Selat Hormuz yang terdampak ranjau akibat konflik. Oleh karena itu, langkah pengamanan tambahan diperlukan untuk menjamin keselamatan dan kelancaran navigasi kapal yang melintas.

Menurut data perusahaan pelacakan maritim AXSMarine, sebanyak 25 kapal komersial melintasi Selat Hormuz pada Kamis, 18 Juni 2026. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sejak pertengahan April dan lebih dari lima kali lipat rata-rata harian yang tercatat pada awal Juni.

Peningkatan lalu lintas kapal terjadi setelah Selat Hormuz kembali dibuka menyusul kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Sebelumnya, Iran menutup jalur pelayaran strategis tersebut setelah perang yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Iran sempat membuka kembali Selat Hormuz secara terbatas pada April, namun aktivitas pelayaran masih jauh di bawah tingkat normal. Sebelum konflik pecah, sekitar 120 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari.

Jalur tersebut berperan vital dalam perdagangan energi global karena sekitar seperlima ekspor minyak dan gas alam cair dunia melewatinya. Meski aktivitas pelayaran mulai meningkat, sejumlah organisasi pelayaran internasional menilai situasi keamanan di kawasan belum sepenuhnya stabil.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) melaporkan, lebih dari 500 kapal komersial masih tertahan di kawasan Teluk akibat dampak konflik. Kapal-kapal tersebut membawa sekitar 11.000 pelaut yang hingga kini belum dapat melanjutkan pelayaran mereka secara normal.

Pembebasan biaya transit dan meningkatnya jumlah kapal yang melintas dipandang sebagai langkah awal menuju normalisasi perdagangan maritim di kawasan. Namun, keberhasilan upaya tersebut akan sangat bergantung pada stabilitas keamanan dan keberlanjutan proses diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....