Harga Minyak Naik di tengah Pembatalan Perundingan AS–Iran
- 19 Jun 2026 15:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Harga minyak Brent naik di atas $80 per barel dipicu meningkatnya risiko geopolitik, terutama pembatalan perundingan AS–Iran di Swiss dan serangan Israel di Lebanon yang menambah ketegangan di Timur Tengah.
- Ketidakpastian diplomasi AS–Iran kembali meningkat setelah pembicaraan dibatalkan akibat kendala logistik, memicu kekhawatiran investor terhadap gangguan pasokan energi global.
- Kenaikan harga minyak terbatas karena membaiknya arus pelayaran di Selat Hormuz dan peningkatan produksi, yang menahan lonjakan harga bahkan membuka peluang penurunan mingguan.
RRI.CO.ID, Washington — Harga minyak Brent naik di atas $80 (Rp1,4 juta) per barel pada Jumat di tengah meningkatnya risiko geopolitik global. Kenaikan ini dipicu oleh pembatalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung di Swiss.
Kementerian Luar Negeri Swiss mengumumkan pembatalan tersebutsetelah Gedung Putih menyatakan Wakil Presiden AS JD Vance tidak berangkat ke Swiss. Keputusan tersebut diambil akibat kendala logistik dalam pembicaraan teknis dengan Iran.
Situasi ini kembali meningkatkan ketidakpastian diplomasi antara AS dan Iran, yang sebelumnya sempat mereda melalui kesepakatan sementara. Investor khawatir bahwa gagalnya perundingan dapat memicu kembali ketegangan di kawasan Timur Tengah dan berdampak pada pasokan energi global.
Pasar juga merespons serangan baru Israel di Lebanon yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 24 orang di wilayah Nabatieh dan sekitarnya. Serangan tersebut menambah tekanan geopolitik di kawasan yang sudah tidak stabil.
Meski demikian, kenaikan harga minyak tidak terlalu besar karena adanya faktor penyeimbang dari membaiknya kondisi pelayaran di Selat Hormuz. Komando Pusat Amerika Serikat telah mencabut pembatasan lalu lintas kapal ke dan dari pelabuhan Iran.
Sementara itu, otoritas maritim menyarankan jalur pelayaran lebih dekat ke pantai Oman untuk mengurangi risiko ranjau. Seiring membaiknya kondisi, kapal tanker yang sebelumnya terjebak mulai kembali melintasi selat, dan Kuwait juga berencana meningkatkan produksi minyak.
Perbaikan arus pelayaran ini membatasi kenaikan harga minyak, bahkan membuat harga hampir menghapus seluruh kenaikan sejak konflik. Kondisi tersebut juga membuka kemungkinan penurunan mingguan yang tajam di pasar minyak global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....