NATO Siap Bantu Pembukaan Selat Hormuz jika Diperlukan
- 18 Jun 2026 14:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- NATO siap mendukung misi Eropa untuk membuka Selat Hormuz jika diminta, dengan Mark Rutte menegaskan keterlibatan akan bergantung pada permintaan negara-negara pelaksana inisiatif.
- Inggris dan Prancis memimpin koalisi maritim sekitar 20 negara yang menyiapkan operasi pengamanan jalur pelayaran, termasuk penjinakan ranjau, pengawasan radar, dan pengawalan kapal.
- Masih ada perbedaan pandangan AS dan Iran soal status Selat Hormuz, terutama terkait kemungkinan biaya atau tarif kapal, meski kesepakatan AS-Iran dianggap langkah awal membuka jalur perdagangan global.
RRI.CO.ID, Brussels — NATO menyatakan siap mendukung upaya yang dipimpin negara-negara Eropa untuk membuka kembali Selat Hormuz jika diminta. Hal tersebut disampaikan di tengah meningkatnya upaya internasional pasca kesepakatan Amerika Serikat dan Iran.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan keterlibatan aliansi akan bergantung pada permintaan dari negara-negara yang terlibat dalam inisiatif tersebut. Ia menegaskan NATO tetap siap membantu jika diperlukan, namun tidak akan ikut terlibat apabila operasi dapat berjalan tanpa dukungan aliansi.
Inggris dan Prancis diketahui memimpin rencana misi angkatan laut multinasional yang bertujuan memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Persiapan operasi ini telah berlangsung selama dua bulan dengan pengerahan aset militer ke kawasan Timur Tengah.
Rencana tersebut mencakup operasi penjinakan ranjau, pengawasan radar, dan pengamanan jalur pelayaran. Rutte menyebut bahwa meski Selat Hormuz berada di luar wilayah NATO, koordinasi utama tetap dilakukan oleh Inggris dan Prancis.
Para pemimpin negara G7 juga membahas inisiatif tersebut sebagai bagian dari implementasi kesepakatan AS-Iran. Pembahasan itu bertujuan memastikan kembali terbukanya jalur perdagangan global di kawasan tersebut.
Melansir dari Anadolu, Kamis, 18 Juni 2026, koalisi maritim yang tengah disiapkan disebut melibatkan sekitar 20 negara. Prancis menempatkan kapal induk Charles de Gaulle di kawasan sejak pertengahan Mei.
Inggris mengirim kapal perusak HMS Dragon, sementara Italia menyediakan kapal penjinak ranjau, dan Jerman mempertimbangkan kontribusi serupa. Pejabat Eropa menyebut operasi ini nantinya dapat mengawal sekitar 2.000 kapal tanker dan kapal kargo yang menunggu melewati Selat Hormuz.
Namun, pengerahan pasukan hanya akan dilakukan jika kesepakatan antara Washington dan Teheran dinilai stabil. Sejumlah negara menekankan pentingnya jaminan keamanan sebelum operasi dimulai.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai kesepakatan dengan Iran cukup menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Ia menyebut keterlibatan militer tambahan mungkin tidak diperlukan, meski tetap membuka kemungkinan dukungan dari negara lain.
Namun, masih terdapat perbedaan pandangan antara Washington dan Teheran terkait status jalur pelayaran tersebut. Perbedaan itu terutama menyangkut kemungkinan biaya atau tarif bagi kapal yang melintas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....